This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 6 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan

5.16.2014

Tips Menjadi Saudara Setan

ูˆَ ุขุชِ ุฐَุง ุงู„ْู‚ُุฑْุจู‰ ุญَู‚َّู‡ُ ูˆَ ุงู„ْู…ِุณْูƒูŠู†َ ูˆَ ุงุจْู†َ ุงู„ุณَّุจูŠู„ِ ูˆَู„ุง ุชُุจَุฐِّุฑْ ุชَุจْุฐูŠุฑุงً
ุฅِู†َّ ุงู„ْู…ُุจَุฐِّุฑูŠู†َ ูƒุงู†ُูˆุง ุฅِุฎْูˆุงู†َ ุงู„ุดَّูŠุงุทูŠู†ِ ูˆَ ูƒุงู†َ ุงู„ุดَّูŠْุทุงู†ُ ู„ِุฑَุจِّู‡ِ ูƒَูُูˆุฑุงً
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Q.S. al-Isra : 26-27)



Orang pinggiran, o ya i yo
Ada di trotoar, o ya i yo
Ada di bis kota, o ya i yo
Ada di jembatan, o ya i yo
Anda pasti ingat lirik lagu di atas yang dinyanyikan oleh musisi papan atas Indonesia, Iwan Fals. Sang musisi ini ingin mengingatkan kita bahwa kemiskinan telah merajalela di Negara Republik Indonesia tercinta ini, dan telah sangat meresahkan. Bagaimana tidak? Saat kita berada diangkot, di bis kota, atau di mobil mewah pribadi, yang berhenti di tengah jalanan karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, mendadak anak-anak kecil menghampiri kita dan dengan memukul-mukul botol atau potongan besi dan kaleng, mulai menyanyikan lagu-lagu yang tentu saja kurang enak di dengar telinga. Tidak berapa lama mereka pun menyodorkan tangan untuk meminta uang sebagai balas jasa atas lagu-lagu mereka. Bukan hanya anak-anak, para remaja dan pemuda, bahkan orang tua dan dewasa, juga melakukan hal itu dengan berbagai cara, baik ngamen, meminta-minta, atau bahkan memaksa.
Melihat semua itu, kita bertanya, di mana pemerintah yang menjanjikan kemakmuran rakyat? Dan Di mana orang-orang kaya yang seharusnya menyantuni rakyat?   
Jika kita mencermati, kemiskinan terjadi dikarenakan ketidakadilan yang tercipta di tangah-tangah masyarakat. Jika kita melaksanakan keadilan, maka orang-orang kaya akan senantiasa menyantuni fakir miskin, sehingga hidup mereka dapat terbantu dalam menjalani kehidupan ini. Karena keimanan itu, bukan saja mengingat Allah dalam salat, tetapi juga mengingat penderitaan orang miskin sehingga bergerak membantunya. Keimanan bukan saja saat membaca dan mencium al-Quran, tetapi juga mencium kepala para anak yatim dan terlantar lainnya. Keimanan bukan saja membesarkan Allah dengan teriakn Allahu akbar, tetapi juga membesarkan hati orang miskin agar merasakan kebahagiaan. Allah berfirman : “Tahukah kamu siapa pendusta dalam agama. Itulah orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang-orang miskin” (Q.S. al-Maun : 1-3)
Banyak ayat al-Quran dan hadis Nabi saaw yg megingatkan kita untuk senantiasa memperhatikan orang-orang miskin, para pengemis, dan anak-anak terlantar. Mereka bukanlah orang pinggiran yang harus disingkirkan, tetapi mereka adalah kekasih-kekasih Tuhan yang menjadi tempat-Nya mencurahkan rahmat. Mereka bukanlah orang-orang malas, tetapi adalah orang-orang yang diputuskan dari pekerjaannya. Mereka bukanlah orang-orang bodoh, tetapi hanyalah orang-orang yang tidak diberi kesempatan sekolah karena biaya yang mahal. Mereka bukanlah orang yang ingin tidur di kaki lima jalanan, melainkan terpaksa dikarenakan korban penggusuran. Intinya, mereka bukan memilih untuk hidup miskin, tetapi mereka ditindas dan dibiarkan miskin oleh orang-orang kaya dan penguasa.
Kita harus menyadari, bahwa orang-orang miskin bukanlah musuh-musuh yang harus dijauhi, tetapi mereka adalah saudara yang harus didekati dan disayangi. Sebab, jika orang-orang kaya dan penguasa menjauhi dan menyingkirkan orang-orang miskin sehingga kesenjangan sosial terasa begitu nyata, maka akan terjadi disintegrasi sosial yang menghasilkan perlawanan kaum miskin. Jadi, pada dasarnya, kemiskinan tidak menjadi sebab bagi keresahan masyarakat. Kemiskinan menjadi biang keresahan bila secara kontras berhadapan dengan kemewahan. Jadi, sumber keresahan di tengah masyarakat, bukanlah kemiskinan, melainkan ketidakadilan dan penindasan. Karena itu, sudah saatnya kita menggalakkan bantuan dan solidaritas sosial untuk mengatasi kemiskinan, melawan menindasan, dan berusaha menegakkan keadilan, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Q.S. al-Isra : 26-27)
Ayat di atas berisi pesan-pesan penting untuk kemanusiaan dan hubungan sosial antar sesama manusia. Diantara prinsip-prinsip hidup yang diajarkan oleh ayat di atas adalah :
  1. Memberikan hak kepada para kerabat dekat, memberikan hak kepada para fakir miskin, baik yang meminta maupun yang tidak meminta, serta membantu orang-orang yang dalam perjalanan (musafir) yang mengalami kesulitan. Ini berarti, bahwa di dalam setiap harta benda kita terdapat hak-hak mereka dan kita jangan mengkhianati serta mencurangi hak-hak mereka tersebut.
  2. Sebagai orang beriman, kita juga dilarang untuk berperilaku boros dengan cara menghambur-hamburkan harta. Orang yang boros, disebut Alquran sebagai sahabat-sahabatnya setan, dan setan itu merupakan makhluk yang sangat ingkar kepada Tuhan.
Kita mungkin sering mentraktir teman-teman makan dipinggir jalan, atau makan siap saji ala KFC atau Mc Donald, bahkan mungkin direstoran mewah tempat orang-orang berdasi. Kita tanpa sadar dan dengan ikhlas mengeluarkan uang berlebih hanya untuk menyenangkan teman-teman kita yang pada dasarnya mampu membayar makanannya masing-masing. Kita mentraktir mereka padahal mereka adalah orang-orang yang kenyang dan ber-uang. Tapi, berapa seringkah kita mentraktir orang-orang kelaparan utk makan? Berapa uang yang kita lemparkan utk pengemis di pinggir jalan? Kita mungkin malu menyebutkannya karena memang tidak sebanding dengan uang utk mentraktir teman. Begitulah, saya dan juga mungkin anda menyadari bahwa empati dan simpati kita masih sangat tipis pada saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Karena itu siapa yang ingin menjadi sahabat setan, tipsnya mudah, jangan bersedekah, abaikan hak-hak orang miskin, dan berlaku boroslah. Tapi kita hanya perlu khawatir dengan sabda Nabi saaw, “Serahkanlah sedekahmu sebelum datang suatu masa ketika engkau berkeliling menawarkan sedekahmu, orang-oang miskin akan menolaknya sambil berkata, ‘Hari ini kami tidak perlu bantuanmu, yang kami perlukan adalah darahmu.”

“Kalian Sahabatku, Sedangkan Mereka Saudaraku”

ุจِِุณْู…ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠْู…ِ 
ุงู„ู… ุฐَู„ِูƒَ ุงู„ْูƒِุชَุงุจُ ู„ุงَ ุฑَูŠْุจَ ูِูŠْู‡ِ ู‡ُุฏًู‰ ู„ِّู„ْู…ُุชَّู‚ِูŠْู†َ
ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ูŠُุคْู…ِู†ُูˆْู†َ ุจِุงู„ْุบَูŠْุจِ ูˆَูŠُู‚ِูŠْู…ُูˆْู†َ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉَ ูˆَู…ِู…َّุง ุฑَุฒَู‚ْู†َุงู‡ُู…ْ ูŠُู†ูِู‚ُูˆْู†َ
 ูˆَ ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ูŠُุคْู…ِู†ُูˆْู†َ ุจِู…َุง ุฃُู†ْุฒِู„َ ุฅِู„َูŠْูƒَ ูˆَ ู…َุง ุฃُู†ْุฒِู„َ ู…ِู† ู‚َุจْู„ِูƒَ ูˆَ ุจِุงู„ْุขุฎِุฑَุฉِ ู‡ُู…ْ ูŠُูˆْู‚ِู†ُูˆْู†َ
ุฃُูˆู„َุฆِูƒَ ุนَู„َู‰ ู‡ُุฏًู‰ ู…ِّู† ุฑَّุจِّู‡ِู…ْ ูˆَ ุฃُูˆู„َุฆِูƒَ ู‡ُู…ُ ุงู„ْู…ُูْู„ِุญُูˆْู†َ
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Alif, laam, mim. Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”
(Q.S. al-Baqarah : 1-5)



Surat al-Baqarah diawali dengan potongan-potongan huruf, Alif, lam, mim. Potongan-potongan ini disebut dengan huruf muqatha’ah. Tidak hanya dalam surat al-Baqarah,huruf muqatha’at terdapat pada 29 surat di dalam al-Quran, yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran, al-A’raf, Yunus, Hud, Yusuf, Ibrahim, al-Hijr, Maryam, Thaha, as-Syu’ara, an-Naml, al-Qashas, al-Ankabut, ar-Rum, ar-Ra’d, Lukman, as-Sajadah, Shad, Qaf, Nun, Ya Sin, Ghafir, Fushilat, as-Syura, az-Zukhruf, ad-Dukhan, al-Jatsiyah, al-Ahqaf. Potongan-potongan ayat ini berjumlah empat belas huruf, yaitu alif, kha, ra, sin, shad, tha, ain, qaf, kaf, lam, mim, nun, ha, ya, dan tersusun sebagai permulaan surat-surat al-Quran yang penuh misteri dan mengandung makna keutamaan al-Quran, perhatian kepadanya, dan keagungan Pembuatnya. Lihatlah wahai manusia, ini adalah huruf-huruf arab yang kamu kenal dan sehari-hari kamu gunakan, tetapi renungkanlah rangkaian ayat-ayat al-Quran ini, yang disusun dari bahasa Arab, tatpi mengandung susunan dan makna yang khas dan tinggi nilainya, sehingga dapat menjadi pedoman hidup manusia. Apakah kamu mampu membuatnya?
Kita tidak akan mampu membuatnya, sebab al-Quran diturunkan dari sisi Allah swt. Namun, kita mampu untuk mengambil manfaat, penjelasan, petunjuk darinya. Allah adalah Wujud Yang Maha Benar, karenanya apa yang diturunkan-Nya ini, yaitu al-Quran pasti juga mengandung kebenaran. Kebenaran adalah kata yang tegas dan tidak mengandung keraguan. Karenanya, tidak ada keraguan di dalam al-Quran, dan tidak pula boleh muncul keraguan dari dalam diri orang yang beriman. “Kitab (Al-Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (Q.S. al-Baqarah : 2). Jadi, al-Quran adalah kitab yang mengandung kebenaran sejati yang tidak tercemari oleh karaguan, karenanya ambillah petunjuk darinya, wahai orang-orang yang bertakwa. Siapa itu orang yang bertakwa? Jawabnya, orang yang memiliki keimanan sejati. Siapa orang yang memiliki keimanan sejati? Dapat kita pahami dari kisah berikut ini.
 Menjelang waktu salat subuh, Rasulullah saaw hendak berwudhu, tetapi tidak mendapatkan air. Beliau meminta kantong kulit dari para sahabatnya. Kemudian, Nabi saaw mengulurkan tangannya dan membuka jari-jarinya. Saat itu, air jernih memancar dari sela-sela jari Rasulullah saaw. Kemudian, Nabi saaw bersabda kepada Bilal, “Hai Bilal, seru mereka untuk berwudhu.” Maka para sahabat pun berdatangan untuk berwudhu dari air yang memancar di sela-sela jari Nabi saaw.
Setelah semua bewudhu, maka Nabi saaw memimpin salat subuh. Selesai salat, beliau menghadap para sahabatnya dan bertanya, “Wahai manusia, siapakah makhluk Allah yang paling menakjubkan imannya?” Para sahabat menjawab, “Malaikat!”
“Bagaimana malaikat tidak beriman padahal meeka pelaksana perintah Allah.” Kata Nabi saaw.
“Kalau begitu, para Nabi, ya Rasul Allah.” Kata para sahabat.
Nabi saaw menjawab, “Bagaimana para Nabi tidak beriman, padahal wahyu dari langit turun kepada mereka.” Jika begitu, sahabat-sahabatmu, ya Rasul Allah.” Kata sahabat lagi.
“Kalian sahabatku, bagaimana tidak beriman, sementara kalian menyaksikan apa yang mereka (para Nabi) saksikan.” Kemudian Nabi melanjutkan, “Orang yang paling menakjubkan imannya adalah kaum yang datang sesudah kamu. Mereka beriman kepadaku, tetapi tidak melihatku. Mereka membenarkan aku, tanpa pernah melihatku. Mereka menemukan al-Quran dan beriman kepadaku. Mereka mengamalkan apa yang ada dalam al-Quran itu. Mereka membela aku seperti kalian membelakuAlangkah inginnya aku berjumpa dengan mereka, saudaraku itu (ikhwani). Selanjutnya Nabi saaw membaca, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka.” (Q.S. al-Baqarah : 3)
Rasulullah saaw menegaskan bahwa keimanan sejati bukan hanya milik malaikat, milik para Nabi, atau milik sahabat-sahabat Nabi, tetapi juga milik orang-orang yang lahir jauh dari masa dan tempat kenabian. Keimanan sejati, juga milik orang-orang yang tidak pernah melihat wajah Nabi, orang-orang yang tidak melihat akhlak Nabi, orang-orang yang tidak melihat turunnya wahyu, yang tidak pernah menyaksikan mukjizat, tidak pernah belajar dari Nabi secara langsung. Meskipun begitu, orang seperti ini tetap beriman kepada Nabi, mengamalkan ajaran-ajarannya, membela nabi dan ajarannya dari penyelewengan dengan akal, harta dan jiwanya. Orang seperti ini disebut oleh Nabi saaw sebagai saudara-saudaranya (ikhwani). Mudah-mudahan kita termasuk orang yang bersaudara dengan Nabi saaw, karena kita tidak pernah berjumpa dengannya, tetapi kita beriman kepadanya, “Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.”
Q.S. al-Baqarah : 1-5 yang sedang kita bahas ini, ingin menegaskan kelompok manusia yang paling mulia, yaitu kelompok orang-orang bertakwa (muttaqin), “Sesugguhnya orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang-orang yang bertakwa” (Q.S. al-Hujurat : 13). Orang bertakwa adalah orang yang memiliki keimanan sejati dengan karakteristik berikut ini.
Pertama, keimanan sejati hanya diperoleh dengan beriman kepada kegaiban. Gaib berarti tidak terindera baik oleh penglihatan, pendengaran, ataupun penciumaan. Gaib hanya mampu dipahami melalui akal pikiran yang sehat dan perenungan yang dalam. Karenanya, orang yang ingin memiliki keimanan sejati, harus melalui perenungan yang dalam terhadap seluruh unsur keyakinan dalam ajaran-ajaran Islam.
Kedua,  keimanan sejati tidak hanya sampai pada keyakinan saja, tetapi juga pancaran keyakinan yang dibuktikan melalui hubungannya dengan Penciptanya, dengan cara melakukan peyembahan kepada pusat keimanan, yakni Allah swt. Salah satu bukti penghambaan itu adalah dengan mengerjakan ibadah salat.
Ketiga, tidak hanya hubungan kepada Allah, keimanan sejati juga harus memiliki manifestasi yang berhubungan dengan manusia lainnya, terutama kepada kaum tertindas atau fakir miskin. Orang yang memiliki keimanan sejati menyadari bahwa apa yang dimilikinya merupakan amanah ilahiah yang harus diberikan kepada yang berhak. Jika punya harta, ingatlah bahwa pada harta itu ada hak orang-orang miskin, karena itu berilah makan orang miskin dengan cara membayar zakat, sedekah, dan infak.
Keempat, keimanan sejati juga ditandai dengan mempercayai wahyu dan kenabian. Di mana Allah swt, telah menurunkan kitab suci kepada Para Nabi dan umat manusia seperti Zabur, Taurat dan Injil, serta yang terakhir dan sempurna yaitu kitab suci al-Quran al-Karim.
Kelima, keimanan sejati harus membenarkan dengan sepenuh jiwa, bahwa kehidupan tidak hanya berakhir di dunia saja, melainkan juga bahwa kehidupan sejati adalah di akhirat. Kematian bukanlah akhir kehidupan, melainkan awal bagi kehidupan baru yang lebih bermakna, di mana seluruh amal perbuatan manusia akan di nilai secara adil, jujur dan akan di balas sesuai dengan amal ibadahnya itu. Jika baik, surga menjadi tempat kebahagiaanya. Jika buruk, maka nerakalah tempat tinggalnya.  
Demikanlah, kelima karakter keimanan sejati itu dapat diperoleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun, karena petunjuk Allah swt, senantiasa terpancar seperti rahmat-Nya yang terus menyebar. Orang yang telah mendapatkan keimanan sejati inilah, yang disandingkan oleh Rasulullah saaw dengan sahabat-sahabatnya, “Kalian sahabatku, sedangkan mereka saudaraku”. Jadi, kita yang hidup saat ini, tidak memiliki kemuliaan kedudukan sebagai sahabat Rasulullah saaw, tetapi mendapatkan kehormatan sebagai saudara Rasulullah saaw. Inilah yang disebut oleh al-Quran, “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”(Q.S. al-Baqarah : 5). “Ya Allah, tanamkanlah ke dalam hati kami, keimanan sejati kepada-Mu, mencintai Nabi-Mu dan keluarganya, serta berilah kami kekuatan untuk senantiasa mengamalkan perintah-Mu, dan menjauhi larangan-Mu.” Amin ya Rabbal ‘alamin

Kekafiran Sejati

ุฅِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ูƒَูَุฑُูˆْุง ุณَูˆَุงุกٌ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ุฃَุฃَู†ุฐَุฑْุชَู‡ُู…ْ ุฃَู…ْ ู„َู…ْ ุชُู†ْุฐِุฑْู‡ُู…ْ ู„ุงَ ูŠُุคْู…ِู†ُูˆْู†َ
ุฎَุชَู…َ ุงู„ู„ّู‡ُ ุนَู„َู‰ ู‚ُู„ُูˆْุจِู‡ู…ْ ูˆَ ุนَู„َู‰ ุณَู…ْุนِู‡ِู…ْ ูˆَ ุนَู„َู‰ ุฃَุจْุตَุงุฑِู‡ِู…ْ ุบِุดَุงูˆَุฉٌ ูˆَ ู„َู‡ُู…ْ ุนَุฐَุงุจٌ ุนุธِูŠْู…ٌ
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, baik kamu beri peringatan atau tidak, mereka tetap tidak beriman.
Allah telah mengunci hati mereka, pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Bagi mereka adalah azab yang sangat besar.”
(Q.S. al-Baqarah : 6-7)


Jika pada Q.S. al-Baqarah : 1-5 Allah swt menjelaskan tentang karakter keimanan sejati, maka pada ayat berikutnya ayat 6-7 di atas Allah swt menyebutkan tentang karakter kekafiran sejati sebagai lawannya.
Para mufassir menyebutkan bahwa ayat di atas menggambarkan karakter tertentu dari orang-orang kafir yaitu orang-orang yang keras kepala dalam penolakan terhadap keimanan, dan di hati mereka kekufuran itu telah mengakar. Pemahaman ini disimpulkan dari fakta bahwa mengingatkan dan tidak mengingatkan mereka sama saja bagi mereka; mereka tetap tidak akan beriman. Tentu saja tidak semua orang kafir memiliki karakter tersebut, karena banyak juga orang yang awalnya kafir tetapi kemudian beriman. Jadi, ayat ini merujuk kepada kekafiran khas yang telah mensubstansi di dalam diri manusia sehingga cahaya hidayah tidak bisa lagi menembusnya.
Orang kafir jenis ini adalah kelompok kafir yang fanatik dan bersikeras dalam kesesatannya sehingga mereka tidak sedikitpun lagi menunjukkan kecenderungan kepada kebenaran walaupun kebenaran itu nyata di hadapan mereka. Sama saja bagi mereka, kita menjelaskan dengan sejelas-jelasnya melalui argumentasi dan dalil ataupun tidak, menyampaikan kabar gembira akan keutamaan orang-orang beriman atau pun tidak, menyampaikan ancaman bahayanya penentangan atau pun tidak, tetap mereka tidak akan patuh dan taat.
Kekafiran tingkat ini diperoleh jika seseorang melakukan penentangan secara terbuka terhadap Allah swt dan tidak memperdulikan nasehat, peringatan, atau apapun, yang boleh jadi didasari sikap tidak meyakini Tuhan karena ateis dan boleh jadi karena kesombongan mereka, “Dan mereka mengingkarinya karena sikap tidak adil dan karena sikap arogan, sementara hati mereka telah meyakininya” (Q.S. an-Naml : 14). Bukankah Iblis yang dengan arogansinya tidak mau sujud kepada Nabi Adam as disebut Allah swt sebagai kelompok kaum kafir.
Tentu saja, Allah swt tidak menghukum manusia tanpa memberinya terlebih dahulu peringatan. Bahkan Nabi saaw disebut sebagai pemberi peringatan (mundzir). Dan peringatan itu bisa dalam berbagai bentuk. Bisa dengan perkataan, tulisan, isyarat, kejadian, ancaman, dan lain-lain.  Apabila berbagai peringatan itu tidak diindahkan, maka salahkan dirinya sendiri jika nanti ia mendapat azab yang pedih. Orang-orang kafir dalam ayat di atas, tentu saja awalnya sudah mendapatkan beragam peringatan, tetapi mereka tidak memperdulikannya bahkan senantiasa menentangnya dengan melakukan dosa-dosa. Saat penentangan itu sudah menjadi karakter dan watak mereka, maka Allah menyegel kekafiran mereka seperti disebutkan ayat ketujuhnya, “Allah telah mengunci hati mereka, pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Bagi mereka adalah azab yang sangat besar” Q.S. al-Baqarah : 7).
Ini berarti bahwa sifat kekafiran mereka yang khas tersebut dikarenakan kefanatikan buta dan keras kepala, serta terus menerus berbuat dosa. Kefanatikan buta, keras kepala, dan kesenangan berbuat dosa tersebut mengakibatkan mereka kehilangan daya pembeda untuk mengenali kebenaran dan kebatilan yang disimbolkan Allah swt dengan hati (akal pikiran), mata, dan telinga. Yang mana sejatinya, unsur-unsur tersebut sebagai sarana manusia untuk mengenal kebenaran dan mengikutinya, tetapi karena kefanatikan dan sikap keras kepala, unsur-unsur kemanusiaan yang mulia itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya, Dan sesungguhnya Kami ciptakan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari bangsa jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi mereka tidak mempergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata, (tetapi) mereka tidak mempergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) mereka tidak mempergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Q.S. al-A’raf : 179).
Perlu juga diperhatikan bahwa Q.S. al-Baqarah : 7 di atas janganlah dimaknai bahwa Allah menakdirkan mereka tanpa ikhtiar untuk menjadi kafir dengan cara Allah mengunci mati dan menutup hati, telinga, dan mata mereka. Tidak demikian. Tetapi ayat ini menggambarkan bahwa manusia dengan kebebasan, pilihan, usaha dan ikhtiarnya sendiri menginginkan kekafiran itu, dengan menutup akal pikiran mereka dari kebenaran dan keimanan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat tersebut yang mengindikasikan dua tahap penguncian potensi manusia (hati, telinga, mata).
Dalam susunan ayat tersebut, tidak saja proses penguncian hati, telinga dan penutupan mata hanya kepada Allah swt, tetapi juga kepada manusia itu sendiri. Misalnya, Allah mengaitkan penguncian atau pengesahan terkuncinya (khatam) hati manusia kepada tindakan-Nya, tetapi juga mengaitkan penutupan (ghiswah) kepada manusia itu sendiri. Ini berarti bahwa pada awalnya manusia dengan kebebasan dan pilihan mereka sendiri, mereka memasang penutup yang menghalangi diri mereka dari cahaya hidayah, keimanan dan kebenaran. Kemudian, setelah dosa-dosa dan kekufuran mereka mensubstansi atau melekat pada jiwa mereka, maka Allah swt meletakkan pula penutup lain atau segel pada jiwa mereka, sebagai pengesahan kekafiran mereka yang keterlaluan. Jadi, ada dua tingkat, yakni penutupan jiwa dari manusia itu sendiri dan pengesahan dari Allah swt. Karena itulah maka mereka selayaknya mendapatkan “azab yang dahsyat”.
Dengan demikian, sebenarnya seluruh manusia, dalam hati mereka yang terdalam, sesuai fitrah insaninya mengakui akan Allah dan agama yang disyariatkan-Nya. Akan tetapi dikarenakan mengganggu eksistensi mereka dalam masyarakat, maka mereka menunjukkan pengingkaran. Begitu pula dikarenakan fanatik buta, keras kepala, dan senang berbuat dosa, maka hati (akal pikiran), telinga dan mata mereka sebenarnya berfungsi, tetapi tidak difungsikan sebagaimana mestinya, karena itulah dikatakan tertutup oleh berbagai hal yang melingkupi kehidupan duniawi mereka, sehingga pengingkaran itu telah melekat dan menjadi watak mereka. Inilah yang dimaksud dengan Allah telah mengunci hati (akal pikiran), telinga, dan menutup mata mereka sehingga tidak mampu lagi melihat lebih jauh akan sebuah kehidupan yang lebih baik, Rasulullah saw mengingatkan kita bahwa bila seseorang berbuat dosa maka akan muncul titik hitam di hatinya, bila ia bertaubat Allah akan menghapus titik itu. Tetapi jika ia berbuat dosa lagi, maka akan bertambah titik-titik hitam itu sehingga akan menutupi seluruh hatinya, hatinya menjadi hitam legam, setiap perbuatan mereka akan semakin membuat hitam hati mereka,“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka” (Q.S. al-Muthaffifin : 14). Semoga Allah menjauhkan kita dari kekafiran, menjauhkan kita dari kefanatikan buta, keras kepala, dan banyak berbuat dosa.

Anugerah Allah yang Tergadaikan

ูˆَุงุนْุชَุตِู…ُูˆุง ุจِุญَุจْู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุฌَู…ูŠุนุงً ูˆَู„ุง ุชَูَุฑَّู‚ُูˆุง ูˆَ ุงุฐْูƒُุฑُูˆุง ู†ِุนْู…َุฉَ ุงู„ู„ู‡ِ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุฅِุฐْ ูƒُู†ْุชُู…ْ ุฃَุนْุฏุงุกً ูَุฃَู„َّูَ ุจَูŠْู†َ ู‚ُู„ُูˆุจِูƒُู…ْ ูَุฃَุตْุจَุญْุชُู…ْ ุจِู†ِุนْู…َุชِู‡ِ ุฅِุฎْูˆุงู†ุงً ูˆَ ูƒُู†ْุชُู…ْ ุนَู„ู‰ ุดَูุง ุญُูْุฑَุฉٍ ู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุฑِ ูَุฃَู†ْู‚َุฐَูƒُู…ْ ู…ِู†ْู‡ุง ูƒَุฐู„ِูƒَ ูŠُุจَูŠِّู†ُ ุงู„ู„ู‡ُ ู„َูƒُู…ْ ุขูŠุงุชِู‡ِ ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَู‡ْุชَุฏُูˆู†َ

 “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali Imran : 103)


Ibnu Ishaq dan Abu Syaikh meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, bahwa ada seorang Yahudi bernama Syas bin Qais lewat di hadapan sekelompok kaum Aus dan Khazraj yang sedang asyik bercengkerama. Perlu diketahui, sebelum Islam, Aus dan Khazraj adalah dua suku besar di Madinah yang saling bermusuhan. Namun, berkat Rasulullah saw mereka akhirnya berdamai dan menjadi sahabat sejati. Syas bin Qais merasa tidak senang melihat keakraban tersebut karena itu timbul keinginannya untuk memecah belah kaum muslimin dengan membangkitkan sentimen permusuhan lama di antara Aus dan Khazraj. Untuk itu dia mengirim seorang pemuda Yahudi untuk mengacau keakraban kedua suku tersebut. Di tengah-tengah perbincangan, pemuda Yahudi itu mengingatkan permusuhan masa lalu Aus dan Khazraj terutama peristiwa perang Bu’ats. Dia mengadu domba mereka dengan menyalahkan satu sama lainnya. Maka timbullah amarah mereka dan mulai bertengkar. Lalu bangkitlah seorang dari suku Aus bernama Aus bin Qaizhi, membanggakan sukunya dan meghina suku Khazraaj. Dibalas hal itu oleh Jabbar bin Sakher dari suku Khazraj. Kedua suku ini saling caci sampai-sampai mempersiapkan diri dengan sejata dan siap berperang.
Disampaikanlah peristiwa itu kepada Rasulullah saw, maka beliaupun segera datang. Beliau menasehati mereka akan persaudaraan mereka yang penuh berkah dan memperingatkan akan propaganda kaum Yahudi yang ingin memecah belah barisan kaum muslimin. Maka Allah menurunkan ayat : “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” Hingga sampai pada ayat,  “Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukanhatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkanmu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (Q.S. Ali Imran : 100-103). (asy-Syuyuthi, Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul)
Kisah di atas mengingatkan kita bahwa perpecahan bisa terjadi karena adanya pihak ketiga yang mengadu domba umat Islam. Pihak ketiga itu adalah Yahudi dan antek-anteknya. Mereka tidak ingin melihat kaum muslimin bersatu. Maka mereka membuat perpecahan kaum muslimin dengan menampilkan kembali permusuhan masa lalu, perbedaan ras, pandangan, hingga kebanggan kepada masing-masing kelompoknya. Islam sangat tidak menyukai perpecahan seperti ini, karena Islam mengajarkan persatuan dan persaudaraan. Dan kembali bermusuhan diindikasikan sebagai kembali pada kekafiran, Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (Q.S. Ali Imran : 100).
Begitu besarnya perhatian Islam terhadap persatuan dan persaudaraan sehingga menyebutnya sebagai nikmat dan anugerah Allah, “…Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukanhatimu, lalu menjadilah kamu orang-orang yang bersaudara…”. Kemudian Allah menyebut perpecahan sebagai azab yang membawa manusia ke tepi jurang neraka, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka..” Sehingga sebagian mufassir memahami an-nar pada ayat itu sebagai “api permusuhan” sesuai konteks ayatnya.
Persatuan dan persaudaraan dapat dilandasi oleh kekerabatan atau hubungan darah, perkawinan, kesukuan, dan geografis kenegaraan. Akan tetapi, Islam juga memiliki hubungan ikatan yang lebih kuat daripada hal-hal di atas. Ikatan itu adalah ikatan keagamanan dan keimanan yang Alquran menyebutnya sebagai tali Allah (hablullah). Umat Islam memiliki titik temu yang mengikat mereka kapanpun dan di mana pun, yakni : menyembah Tuhan Yang Esa, beriman kepada Nabi yang sama, Kitabnya satu yakni Alquran, kiblatnya juga sama yaitu Ka’bah. Jadi, umat Islam memiliki ikatan keimanan yang mencerminkan pandangan dunia, kebudayaan, idologi, peribadatan, tradisi, dan kebiasaan sosial yang satu. Karenanya umat Islam disebut sebagai ummatan wahidah (umat yang satu). Ini semua anugerah Allah, sehingga persatuan itu dinisbahkan Allah kepada diri-Nya secara langsung, “maka Allah mempersatukanhatimu…” begitu kata ayat tersebut. Namun sayang, anugerah itu sering kita gadaikan dengan kepentingan duniawi yang sangat murah.
Padahal sistem persatuan di bawah ikatan ‘tali Allah’ telah dilakukan sejak zaman Nabi Muhammad saw. Pada waktu itu, kaum muslimin meninggalkan Mekah dan berhijrah menuju Madinah. Sebagai bangsa pendatang (muhajirin) yang meninggalkan harta dan bendanya di Mekah, maka kaum muhajirin Mekah mendapat bantuan dari saudara-saudara mereka di Madinah, sehingga disebut sebagai qaum anshar (kaum penolong). Berkat bantuan kaum anshar, masyarakat Mekah mendapatkan kebutuhan hidupnya dalam bidang ekonomi, sosial, maupun kesehatan. Untuk memperkuat hubunganmuhajirin dan anshar, Nabi pun mengukuhkan suatu ikatan persatuan dalam kekeluargaan yang disebut dengan muakhah (persaudaraan), yang mana setiap orangmuhajirin dipersaudarakan dengan orang-orang anshar. Hanya saja ada juga yangmuakhah-nya dilakukan di antara sesama muhajirin, yaitu muakhah antara Nabi saw dengan Ali bin Abi Thalib. Dengan persaudaraan inilah Rasulullah saw membangun peradaban Islam yang dimulai dari Madinah yang nantinya menggetarkan setiap kekuatan asing di dunia ini. Karena Rasul saw menyadari, tanpa persatuan maka umat akan mudah dikuasai oleh musuh-musuh Islam, devide et impera. Karenanya, jika kita ingin Islam kembali menjadi mercusuar peradaban dunia, tidak ada jalan lain kecuali membangun persaudaraan yang kokoh, sebab “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. (hd/liputanislam.com)