This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 6 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

6.07.2014

Tubuh Rasulullah SAW di lindungi petir

Kisahnya

Pada zaman Rasulullah SAW, tidak sedikit sahabat yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri tentang kehebatan mukjizat beliau yang spektakuler adalah tubuhnya memancarkan nyala api dan petir sebagai tameng dari serangan lawan yang hendak membunuhnya.

Dikisahkan, Rasulullah SAW berangkat menuju medan Perang Hunain. Diantara yang ikut serta dalam pasukan kafir, ada seorang lelaki yang bernama Syaibah bin Usman bin Thalhah, yang ayah dan pamannya terbunuh dalam Perang Uhud. Oleh karena itu, keikutsertaan Syaibah dalam Perang Hunain adalah untuk membalas dendam atas kematian bapak dan pamannya di Perang Uhud.

Memancarkan Petir

Sasaran utama Syaibah adalah membunuh Rasulullah SAW. Ketika Syaibah mengetahui Rasulullah SAW turut serta dengan pasukan Islam dalam Perang Hunain, dirinya pun ikut bergabung dengan pasukan kafirQuraisy menuju suku Hazawin. Harapannya bila perang sudah berkecamuk, dirinya akan mencari kesempatan dan menunggu saat yang tepat untuk membunuh Rasulullah SAW. Dengan demikian, dirinya dapat menyelesaikan balas dendam kaum kafir Quraisy terhadap Rasulullah SAW.

Syaibah telah memperhitungkan rencananya dengan matang agar jangan sampai gagal. Pedangnya pun dibawa dan telah diasah tajam hingga nanti dapat sekali tebas kepala Rasulullah SAW langsung pisah dari badannya. Hari yang ditunggu pun tiba. Perang sedang berkecamuk dengan hebatnya dan Syaibah terus mengintai gerak gerik Rasulullah SAW karena dialah sasaran utamanya.

Akhirnya, tibalah saat yang ditunggu oleh Syaibah. Sebab di saat orang-orang Islam prak poranda dan bercerai berai oleh serangan gencar pasukan panah kaum kafir yang bertubi-tubi, membuat pasukan Islam tak mampu melindungi Rasulullah SAW. Maka, Syaibah langsung mengeluarkan pedangnya sambil mendekati Rasulullah SAW. Setelah mendekat, serangan pun dilancarkan.

Tiba-tiba saja ada nyala api keluar daru tubuh Rasulullah SAW seperti petir yang menyambar-nyambar dan nyaris menyambar wajah Syaibah. Petir itu seakan melindungi tubuh Rasulullah SAW dari serangan Syaibah. Melihat kejadian itu, Syaibah langsung menutup wajahnya karena rasa takut. Dirinya pun langsung berlari menjauhi Rasulullah SAW. Namun justru Rasul memanggil Syaibah,"Wahai Syaibah, datanglah kemari," ujar Rasulullah SAW.

Membela Rasulullah SAW

Dengan perasaan takut, Syaibah pun mendekat. Rasulullah SAW lalu meletakkan tangannya di dada Syaibah. Rupanya beliau mengerti kalau Syaibah ketakutan dan gemetaran. Beliau mengusap-usap dada Syaibah seraya berdoa,
"Y Allah, lindungilah dia dari bisikan setan."

Pada saat itu juga, tak ada yang lebih dicintai oleh telinga, mata, dan segenap jiwa Syaibah kecuali Rasulullah SAW. Perasaan benci dan dendam kepada Rasulullah SAW tiba-tiba saja sirna berganti kecintaan yang luar biasa hebatnya.

"Mari ikut berjuang bersama kami, "kata Rasulullah SAW.
Syaibah langsung berdiri tegak di hadapan Rasulullah SAW. Syaibah lantas melancarkan serangan balik menghantam kaum kafir yang memusuhi Rasulullah SAW dan para sahabat-sahabatnya.

5.30.2014

Komitmen Keadilan : “Jika Fatimah Mencuri, Aku akan Potong Tangannya”

الْأَقْرَبينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi Karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu…” (Q.S. an-Nisa : 135)
Menurut asalnya, kata adil berasal dari bahasa Arab al-adl yang berarti seimbang. Adapun menurut istilah, secara umum, keadilan didefenisikan dengan “meletakkan sesuatu pada tempatnya”, atau “memberikan hak kepada yang berhak”, i’tha kulli dzi haqqin haqqahu.
Keadilan bukanlah kesamaan, karena hal itu berlaku hanya pada orang-orang yang juga sama dalam kewajibannya. Sedangkan jika kondisinya tidak sama, maka kesamaan adalah ketidakadilan dan merusak kehidupan. Misalnya, jika semua adalah petani, maka tidak ada pula petani itu sendiri, sebab petani memerlukan cangkul, pupuk, racun, dan lainnya. Jika semua orang kaya, maka kekayaan itu sendiri tidak akan ada harganya, jika malam terus-menerus tanpa siang, maka malam tidaklah ada. Jadi berpasangan dan perbedaan merupakan hal penting di alam ciptaan.
Jadi, dalam keadilan, kata kuncinya adalah hak yaitu sesuatu yang didapat setelah adanya kegiatan (kewajiban), atau kepemilikan seseorang terhadap sesuatu. Begitu pula, keadilan bertentangan dengan kezaliman. Pelaksanaan hak adalah sebuah keadilan, dan pelanggaran hak adalah kezaliman. Karena itulah, keadilan bisa diartikan sebagai perbuatan yang tidak mengakibatkan kezaliman, tidak melanggar hak, tetapi perbuatan yang sesuai dengan kebaikan, kesempurnaan dan kemaslahatan manusia. Keadilan juga merupakan induk dari segala jenis kebaikan dan akhlak mulia (akhlak al-karimah) serta jalan menuju kedamaian. Orang yang adil adalah orang yang tidak melanggar hak-hak orang lain, tidak berlaku zalim, dan tidak menodai kehormatan yang akan mendatangkan kebencian dan permusuhan. Karenanya Islam memerintahkan seluruh manusia untuk berlaku adil, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan…” (Q.S. an-Nahl : 90).
Masalah keadilan termasuk masalah penting yang menjadikan manusia tercerahkan dan penuh optimis dalam menghadapi hidup. Karena itu pemahaman yang benar dan proporsional atas keadilan ini merupakan agenda besar untuk menyingkap misteri tujuan dan hikmah penciptaan. Begitu pula, keadilan merupakan hal penting agar agama diamalkan oleh manusia. Sebab, keadilan menegaskan bahwa kebaikan dan keburukan menjadi ukuran perbuatan manusia. Secara fitriah manusia juga senantiasa mengejar keadilan dan menolak kezaliman. Secara sosial, keadilan berhubungan erat dengan teraturnya hubungan sosial kemasyarakatan. Bayangkan jika keadilan tidak ditegakkan dan kezaliman meraja lela? Karenanya, Alquran sangat memperhatikan tentang keadilan ini, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi Karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu…” (Q.S. an-Nisa : 135)
Bahkan, keadilan dalam Islam, berhubungan erat dengan tauhid, misi kenabian dan hari akhir. Tuhan bersifat adil, karenanya menurunkan agama dan hukum yang adil yang menjadi tugas para Nabi, dan akan membalas manusia sesuai dengan hukum yang adil. Siapa melakukan keburukan akan di balas dengan azab, dan siapa mengamalkan kebaikan maka akan memperoleh ganjaran kebahagiaan. Allah berfirman : “(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah diusahakannya.  Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu).” ( Q.S. an-Najm/53 : 38-42)
Adapun bentuk keadilan yang utama dapat diklassifikasikan berikut :
  1. Keadilan Manusia terhadap Tuhan. Inilah bentuk keadilan yang paling cemerlang, konsep yang paling tinggi dan simbol kredibilitas keadilan. Seseorang dikatakan berlaku adil pada Tuhan, hanya dengan memenuhi kewajiban agama, tetapi juga menuntut kita mengakui berbagai kelemahan-kelemahan kita di hadapan-Nya.
  2. Keadilan Para Penguasa. Karena penguasa adalah pemimpin yang memelihara hak-dan kewajiban masyarakat. Dengan keadilan para penguasa, masyarakat akan tentram, damai, sejahtera, dan bahagia. Jika sebaliknya, maka kejahatan akan merajalela, penindasan di mana-mana, dan orang-orang miskin akan terlantar tanpa ada yang membantunya.
  3. Keadilan Sesama Manusia. Bentuk keadilan ini dapat dicapai dengan memenuhi hak-hak individual, bergaul dengan akhlak mulia, dan simpati kepada fakir miskin. Namun, Keadilan ini bukan hanya untuk yang hidup, tetapi juga untuk yang telah wafat.Yaitudengan bersimpati kepada keluarganya, menjalankan wasiatnya, membayar hutangnya, dan berdoa agar Allah mengampuni dosa-dosanya. Orang yang meninggal akan merasa bahagia jika ada orang memohonkan rahmat dan ampunan baginya, atau bersedekah atas namanya.
Ali bin Abi Thalib ra mewasiatkan komitmen keadilan dalam kehidupan, “Wahai puteraku! Buatlah dirimu sebagai neraca dalam pergaulanmu dengan orang-orang lain. Engkau sebaiknya menginginkan untuk orang-orang lain apa yang engkau inginkan untuk dirimu. Jangan menzalimi orang lain sebagaimana engkau tidak suka dizalimi. Berbuat baiklah kepada orang-orang lain sebagaimana engkau senang diperlakukan dengan baik. Perhatikanlah agar keburukan yang menimpa dirimu jangan sampai dirasakan oleh orang lain. Terimalah perlakuan baik orang-orang lain sebagaimana engkau ingin agar orang-orang  lain menerima perlakuan baikmu. Janganlah mengatakan sesuatu yang tidak engkau ketahui walaupun apa yang engkau ketahui sangat sedikit. Janganlah mengatakan (sesuatu) kepada orang-orang lain apa yang engkau tidak suka orang-orang lain mengatakan (sesuatu yang sama) kepadamu.”Itu wasiat Sayidina Ali ra kepada anaknya. Sekarang mari kita lihat komitmen Rasulullah saw dalam penegakan keadilan. Pada masa Rasulullah saaw, seorang wanita bangsawan dari Bani Makhzum melakukan pencurian. Rasul pun mengambil keputusan untuk menghukumnya. Keluarga si wanita yang merupakan bangsawan Quraysi, merasa hukuman itu akan merusak citra mereka. Karenanya mereka berusaha membatalkannya. Mereka meminta Usamah bin Zaid ra membicarakannya kepada Nabi saw. Usamah pun menyampaikan maksudnya. Nabi saw menjadi murka dan bersabda, “Apakah engkau ingin menjadi pembela agar tidak terlaksananya hukum Allah? Ketahuilah, penyebab kesengsaraan dan kebinasaan umat-umat terdahulu adalah ketika orang-orang kaya dan terpandang melakukan kesalahan, maka hukum Allah tidak diberlakukan kepada mereka. Tapi, jika yang berbuat salah itu orang miskin dan tidak terpandang, dengan cepat mereka menghukumnya. Demi Allah, seandainya anakku Fatimah mencuri, niscaya akan kupotong tangannya.”
Kisah ini menunjukkan kepada kita bagaimana komitmen Nabi saw, dalam menegakkan keadilan sesuai dengan perintah Allah swt, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi Karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu…” (Q.S. an-Nisa : 135). Sekarang perhatikan para bangsawan Negara kita, apa yang mereka lakukan saat masalah melanda kerabat mereka, apakah mereka komitmen pada keadilan? Anda pasti tahu jawabanya.

Kehormatannya Lebih Mulia dari Ka’bah

ka'bah



Pada zaman Rasulullah saw, lewatlah seseorang di depan para sahabat sembari mengucapkan salam. Setelah orang itu pergi, salah seorang berkata, ’Aku membenci dia’. Mendengar itu, sahabat lain menceritakan hal itu pada pria tersebut. Kemudian, keduanya menghadap Rasulullah saw. Nabi saw bertanya, ’Mengapa engkau membencinya?’ Ia berkata, ’Ya Rasulullah, aku ini tetangganya. Aku tahu kelakuannya. Dia tidak salat kecuali salat wajib saja, yang dilakukan orang soleh maupun durhaka.’
Pria yang dibenci itu berkata, ’Ya Rasulullah, tanyalah dia, salahkah wudhuku atau apakah aku mengakhirkan salatku?’ Orang itu menjawab tidak,lalu berkata, ’Ya Rasulullah, dia tidak memberikan selain zakat, yang dilakukan oleh orang soleh maupun durhaka.’
Pria yang dibenci itu berkata, ’Ya Rasulullah, tanyalah dia, pernahkah aku menahan hak orang lain yang memintanya?’ Orang itu menjawab tidak, tetapi berkata lagi, ’Ya Rasulullah, dia tidak berpuasa kecuali pada bulan Ramadhan, ketika orang soleh dan durhaka sama-sama melakukannya.’
Pria yang dibenci itu berkata, ’Ya Rasulullah, tanyakan kepadanya, pernahkah aku berbuka satu hari saja bukan karena sakit atau musafir.’ Sekali lagi orang itu menjawab tidak. Kemudian Nabi saw berkata kepada si pembenci tadi, ’Sungguh aku tidak tahu, boleh jadi dia lebih baik dari kamu.’
Kisah di atas menceritakan seseorang yang telah masuk dalam jebakan prasangka. Prasangka (prejudice) adalah penilaian negatif terhadap suatu kelompok atau individu yang dilakukan sejak awal dan terus berlanjut walaupun faktanya tidak sesuai dengan penilaiannya tersebut. Gordon W. Allport dalam The Nature of Prejudice menyatakan bahwa prasangka merupakan pernyataan yang hanya didasarkan pada suka dan tidak suka, mendukung dan tidak mendukung, hingga pandangan yang emosional dan bersifat negatif terhadap individu atau kelompok tertentu. Karenanya, prasangka merupakan salah satu rintangan komunikasi atau hambatan bagi hubungan antar sesama karena orang yang berprasangka belum apa-apa sudah curiga kepada orang lain. Dalam prasangka, emosi memaksa kita untuk menarik kesimpulan atas dasar syakwasangka tanpa menggunakan pikiran dan pandangan secara objektif. Karena itulah, sekali dicekam prasangka, maka seseorang tidak akan dapat berpikir objektif dan segala apa yang dilihatnya akan dinilai secara negatif. Karenanya, salah satu ciri dari prasangka kata Zastrow adalah memandang kelompok lain dengan pandangan sinis (Outhwaite, Ensiklopedi Pemikiran Sosial Modern, 2008: 676-677).
Kita jatuh pada prasangka, jika kita mencurigai akidah, ibadah, dan perilaku orang lain. Karena kecurigaan dan prasangka buruk itu, membuat kita membenci orang yang berbuat baik, orang yang salat, yang puasa dan yang zakat, seperti kisah di atas. Prasangka itu di dahului oleh dugaan hati, menguat menjadi kebencian, selanjutnya muncul dalam kata-kata dan tindakan. Prasangka dalam akhlak Islam di sebut zhan,yang memiliki dua macam bentuk, yaitu husnuzahan (prasangka baik) dansu’uzhan (prasangka buruk). Jadi, berbeda dengan Allport dan Zastrow di atas, dalam Islam prasangka itu bisa saja baik, bukan hanya kebencian dan sisnisme semata.
Islam mengajarkan kepada manusia untuk berprasangka baik, dan melarang berprasangka buruk, karena prasangka baik membawa manusia untuk berpikir dan bersikap secara positif dan tidak tergesa-gesa menilai perbuatan orang lain, ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), Karena sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain...” (Q.S. al-Hujurat : 12)
Perhatikan, ayat di atas menyebutkan jalannya prasangka dan konsekuensinya. Awalnya adalah prasangka, kemudian berlanjut mencari-cari keburukan, dan kemudian menggunjingkannya. Pada tingkatan terakhir ini, prasangka di hati berubah menjadi ghibah di lidahbahkan mungkin fitnah. Sungguh ini dosa yang besar. Karenanya berhati-hatilah pada prasangka kita. Jangan sampai prasangka kepada seseorang atau kelompok orang menjadikan kita juru ghibah dan juru fitnah hanya karena kita mencurigai akidah, ibadah dan akhlak orang lain. Bebaskan diri dari su’uzhan dengan membangun husnuzhan. Sebab, perilakuhusnuzhan berarti mempertahankan kehormatan kaum muslimin, sedangkan su’uzhanbertujuan menghinakan kehormatan orang muslim, padahal kehormatan kaum muslim itu lebih besar dari ka’bah, kiblat umat Islam. Rasulullah saw bersabda,

”Sesungguhnya kehormatan orang Islam lebih besar di sisi Allah daripada kehormatan ka’bah. Hartanya dan darahnya, harus dihormati, dan tidak boleh berprasangka apapun kepadanya kecuali yang baik saja.”

Kita mengetahui bahwa ka’bah itu sangat terhormat karena kedudukannya sebagai kiblat, syiar tauhid, dan tempat mengagungkan Allah swt. Merendahkan kehormatan ka’bah, seperti pernah dilakukan tentara gajahnya Abrahah, akan mengundang kemurkaan Allah. Namun, bagi Rasulullah saw, kehormatan umat Islam jauh lebih besar. Maka jelaslah, meruntuhkan kehormatan orang muslim melalui prasangka buruk terhadap akidah, ibadah, dan akhlaknya, merupakan hal yang dibenci Allah. Ini berarti, menjaga kehormatan kaum muslimin, merupakan hal yang sangat disenangi Allah dan mendatangkan rahmat serta kerunia-Nya.Karenanya membela kehormatan kaum muslimin adalah kewajiban sebagaimna wajibnya membela ka’bah. Sekarang, perhatikan sekeliling kita, tetangga atau teman-teman kita, jika mereka berbeda dengan kita, identifikasilah prasangka anda terhadapnya. Dan berhati-hatilah, karena kehormatannya lebih mulia dari ka’bah.

Dengan Nama Allah, Api Terasa Dingin

     Namrudz dan putrinya Ra'dhah duduk menyaksikan pelemparan Nabi Ibrahim as ke dalam api. Putri Namrudz berdiri di suatu tempat tinggi menyaksikan Nabi Ibrahim berada dalam api, tetapi tidak terbakar.
    "Wahai Ibrahim, mengapa api tidak membakar tubuhmu?" tanya Ra'dhah penuh rasa heran.

     "Barangsiapa yang lisannya mengucapkan Bismillah ar-Rahman ar-Rahim dan hatinya mengenal Allah, ia tidak akan terbakar api," jawab bapak para Nabi itu.
      "Aku ingin bersamamu."
       "Katakanlah bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Ibrahim kekasih (al-khalil) Allah.
Lalu masuklah ke dalam api."
        Ra'dhah melangkahkan kaki ke dalam api dan menyatakan keimanannya.
Kemudian, ia keluar dari kobaran api dengan selamat.

         Namrudz teramat heran menyaksikan peristiwa ini. Namrudz khawatir akan posisi dan kekuasaannya karena keislaman Ra'dhah. Ia menasehati putrinya agar meninggalkan agama Nabi Ibrahim as. akan tetapi, putrinya bersikeras menolak.
Namrudz gusar dan memerintahkan para pengawal menyalib Ra'dhah di bawah terik sinar matahari.

        Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang berfirman kepada Jibril, "Bebaskanlah hamba-Ku."

        Jibril menyelamatkan Ra'dhah dari kematian dan mengantarkannya ke hadapan Nabi Ibrahim as.

        Ra'dhah menjadi pengikut setia dalam menghadapi berbagai kesulitan. Nabi Ibrahim menikahkannya dengan seorang putra beliau. Allah Swt mengaruniakan beberapa orang putra darinya dan semuanya menjadi Nabi.

5.27.2014

ILMU VS HARTA [IMAM ALI]






Ilmu Vs Harta adalah sebuah petuah dari Imam Ali Radliyallahu'anhu. Nasihat dari Imam Ali bin Abi Thalib ini saya kutip dari Kitab Ihya Imam Al-Ghazali, sebagai catatan saya pribadi, dan berharap juga bisa dibaca dan diambil hikmahnya untuk sobat ruang semua.

Imam Ali, "Manusia dibagi menjadi tiga macam, Pertama adalah orang Alim yang taat kepada Tuhan, Orang yang menuntut Ilmu, yang berada pada jalanan, dan orang kebanyakan yang hanya ikut-ikutan, mengikuti komando, mereka condong kemana angin berhembus, tidak mengambil penerangan dari nur ilmu, dan tidak pula berlindung pada tiang yang kokoh.

Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu itu menjagamu, sedangkan engkau menjaga harta. Ilmu bertambah karena diberikan, harta berkurang karena dibelanjakan. Ilmu seperti halnya agama yang orang mendapatkan balasan karenanya. Dengan ilmu orang melakukan taat dan ibadat dalam hidpnya. Dengan ilmu pula, orang akan mendapatkan nama baik setelah kematiannya."

Setelah menerangkan ini Sayyidina Ali menarik Nafas panjang, lalu melanjutkan :
"Ah, di dada ini ada ilmu banyak sekali, kalau saja aku menemukan orang yang sanggup membawanya. Sebaliknya aku hanya menemukan penuntut ilmu yang tidak bisa dipercaya, yang mempergunakan agama sebagai alat untuk mencari dunia dan membanggakan nikmat-nikmat Allah kepada para Waliyullah serta mencari kemenangan terhadap orang lain dengan hujjahnya. Atau aku hanya menemukan orang yang  mengikuti ahli haq, tetapi keraguan gampang muncul dihatinya pada permulaan timbulnya subhat (perkara yang samar) yang tidak dikenal, tidak mempu menentukan yang ini atau yang itu.Atau aku hanya menemukan orang yang tergila-gila pada kelezatan hidup, yang gampang ikut untuk mencari kesenangan kesenangan.
Atau orang yang gemar menumpuk harta dan menyimpannya, tunduk kepada hawa nafsunya, sehingga lebih menyerupai binatang gembalaan.

Demikianlah, ilmu itu mati jika para gembalanya juga mati, selanjutnya, dunia ini tidak sepi dari orang-orang yang mengegakkan kebenaran Allah dengan mengemukakan hujjah, baik ia sebagai orang yang jelas dan terbuka, atau sebagai orang yang takut dan pecundang, supaya tidak rusak hujjah-hujjah Allah Ta'ala dan bukti-bukti kebenaranNYA.

Berapa dan dimanakah orang itu. Mereka itu sedikit jumlahnya tetapi agung derajatnya. Wujud mereka memang tidak kelihatan, tetapi cita-cinta mereka ada pada hari setiap orang.

Tugas mereka adalah menjaga Hujjah-hujjah Allah Ta'ala sampai mereka menitipkannya kepada orang-orang dibelakang mereka dan menananmkannya di hati orang-orang yang serupa dengan mereka. Karena peranan mereka, ilmu dapat menguasai kenyataan, sehingga mereka dapat menyentuh roh keyakinan, sehingga mereka bisa merasakan kenikmatan yang tidak dirasakan oleh orang-orang yang hidup mewah, dan mereka merasa tentram yang dikeluhkan oleh orang-orang lalai.

Mereka tampaknya bergelut dengan dunia, tetapi jiwa mereka bergantung pada tempat yang tinggi. Mereka itulah waliyullah (orang-orang yang dikasihi Allah) diantara hambanya, orang-orang kepercayaan Allah, Petugas-petugas Allah diatas buminya, dan penyeru-penyeru kepada agamaNYA".

Kemudian Sayyidina Ali Menangis sambil mengeluh, " Ah Betapa Rinduku tak tertahankan untuk melihat mereka."

NASIHAT IMAM ALI

Nasihat-Imam-Ali



"Kebaikan bukanlah memiliki harta melimpah dan anak banyak. Akan tetapi, kebaikan adalah jika amalmu banyak, ilmumu luas dan engkau tidak menyombongkan diri kepada orang lain dengan ibadahmu kepada Allah swt. Jika berbuat baik, engkau segera bersyukur kepada Allah swt dan jika berbuat buruk segera memohon ampun kepada-Nya. Di dunia ini tidak ada kebaikan, kecuali bagi orang berikut :


  1. Seorang yang banyak berbuat dosa kemudian bertobat dan memperbaiki segala kesalahannya.
  2. Seorang yang senantiasa bergegas untuk melakukan berbagai amal kebajikan


"Ketahuilah! Sesungguhnya kalian akan mati dan setelah itu dibangkitkan. Kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas semua amal kalian, serta mendapatkan balasan yang setimpal. Karena itu jangan tertipu kehidupan dunia. Kehidupan dunia ini penuh ujian, bersifat sementara dan sarat dengan tipu daya. Semua yang berada di dalamnya akan musnah. Para penghuninya pun saling berebut untuk memperolehnya.

Ketahuilah! Kalian beserta segala perhiasan kehidupan dunia akan mengalami hal yang sama dengan mereka yang terdahulu, orang-orang yang lebih panjang umurnya dan lebih megah rumahnya. Sekarang jasad mereka telah menjadi tulang belulang, rumah mereka kosong. Mereka berada di kubur yang letaknya dekat dan penghuninya terasingkan. Mereka digerogoti oleh cacing, tertimbun oleh bebatuan dan pasir.

Bayangkan kalian kelak akan menjadi seperti mereka, tubuh kalian hancur dan sendiri di kubur. Apa yang akan terjadi dengan kalian jika kiamat tiba, semua yang dikubur dibangkitkan dan segala rahasia yang tersembunyi dalam dada dibongkar, pada saat itulah setiap jiwa akan memperoleh balasan sesuai dengan perbuatannya selama hidup di dunia." 

"Hapalkanlah lima hal ini, andaikata kalian menunggang onta untuk mendapatkannya, maka hingga onta itu kurus, kalian tidak akan memperolehnya :


  1. Seorang Hamba hendaknya tidak berharap kecuali kepada Allah swt Tuhannya.
  2. Seorang hamba hendaknya hanya takut akan dosa-dosanya.
  3. Seorang yang bodoh hendaknya tidak merasa malu untuk bertanya.
  4. Seorang yang berilmu ketika ditanya tentang sebuah persoalan dan tidak mengetahui jawabannya, hendaknya tidak malu untuk mengatakan, "Allah swt yang Maha Mengetahui."
  5. Bagi Iman, sabar ibarat kepala sebuah tubuh, sehingga tidak ( sempurna ) iman seseorang yang tidak memiliki kesabaran.


Sekian, semoga Nasihat Imam Ali diatas bisa menjadi bahan rengungan kita bersama...aamiin 

KISAH IMAM ALI BIN ABI THALIB DAN SEDEKAH BUAH DELIMA

Kisah-imam-ali






Dikisahkan oleh ka'ab bin Akhbar. Ketika Fathimah, Putri Rasulullah saw, sekaligus istri Ali bin Abi Thalib r.a sakit, ia ditanya oleh suaminya, " wahai Fathimah, engkau ingin buah apa?"
"Aku ingin buah delima". Jawabnya.
Ali r.a terdiam sejenak, sebab ia merasa tidak memiliki uagn sepeserpun. Namun, ia segera berangkat, berusaha mencari pinjaman uang satu dirham. Setelah mendapatkan pinjaman, ia pergi kepasar untuk membeli buah delima dan segera kembali pulang.

Ditengah perjalanan menuju rumahnya, ia melihat seseorang yang tergeletak sakit dipinggir jalan, maka Ali pun berhenti dan menghampirinya. "Hai orang tua, apa yang diinginkan hatimu?" tanyaimam Ali.

"wahai Ali, sudah lima hari aku tergeletak sakit ditempat ini, banyak orang yang berlalu lalang, namun tak ada satu pun dari mereka yang mau peduli kepada ku, padahali hatiku ingin sekali makan buah delima." Jawab orang sakit tersebut.

Mendengar jawabannya, Ali pun terdiam sebentar, sambil berkata dalam hati, "Buah delima yang hanya sebiji ini, sengaja aku beli untuk istriku, kalau aku berikan kepada orang ini, pasti Fathimah akan sedih sekali, Namun jika tidak aku berikan berarti aku tidak menepati firman Allah, *"Terhadap sipengemis, Engkau janganlah menghardiknya." *(QS. Al-Dhuha : 10). Juga sabda Nabi saw, " janganlah sekali-kali kamu menolak pengemis, sekalipun diatas kendaraan". 

Kemudian Ali membelah buah delima itu menjadi dua bagian, setengahnya lagi untuk fathimah. Sesampai dirumah ia menceritakan peristiwa itu kepada istrinya, dan Fathimah merangkulnya serta mendekapnya seraya berkata kepada suaminya, " Kenapa kamu sedih, demi Allah yang maha Perkasa dan Maha Agung, ketika engkau memberikan buah delima kepada orang tua itu, maka puaslah hatiku dan lenyaplah keinginanku pada buah delima itu." Dengan wajah yang cerah Ali merasa sangat gembira dengan penuturan istrinya. 

Tidak lama kemudian datanglah seorang tamu yang mengetuk pintu, lalu Ali berkata, "Siapakah tuan?""Aku salman alfarisi," Jawab orang yang menetuk pintu itu. Setelah pintu dibuka, Ali melihat Salman membawa sebuah nampan tertutup, dan diletakkkan didepan Ali, lalu Ail bertanya," Dari manakah nampan ini wahai Salman ?". 

"Dari Allah swt untukmu melalui perantaraan Rasulullah saw." Jawabnya. 
Setelah penutup nampan tersebut dibuka, terlihat didalamnya Sembilan biji deilma, tetapi Ali langsung memprotes, Katanya, " Hai Salman, jika ini memang untukku, Pasti jumlahnya sepuluh." Lalu ia membacakan firman Allah swt, *"Barang siapa berbuat satu amal kebaikan, maka pasti baginya sepulu kali lipat amalnya (Balasannya)."* (QS.Al-An'am ; 160 ) 

Salman pun langsung tertawa, sambil mengembalikan sebuah delima yang masih ditangannya, seraya berkata, "Wahai Ali, demi Allah, sandiwaraku ini hanya sekadar menguji sejauh mana keyakinanmu terhadap firman Allah yang Engkau bacakan tadi." 

Wassalamu'aliakum Warohmatullahi Wa Barokaatuhu
Sumber ; Durratun Nasikhin fi al-Wa'dzi wa al-Irsyad, Syekh Usman al-Khaubari. 

NABI KHIDIR MASIH HIDUP?

tanya








Nabi Khidir Masih Hidup?

Berkata Hujjatul Islam Al Imam Nawawi rahimahullah :

وقد احتج بهذه الاحاديث من شذ من المحدثين فقال الخضر عليه السلام ميت والجمهورعلى حياته
سبق في باب فضائله ويتأولون هذه الاحاديث على انه كان على البحر أو انها عام مخصوص

Sungguh telah berhujjah dengan hadits ini (hadits = Rasul saw bersabda bahwa setelah
100 tahun maka tak tersisa lagi yang hidup diantara kita didaratan ini), mereka yang
salah dari para periwayat hadits yang mengatakan bahwa Khidir as sudah wafat, dan
Jumhur (pendapat yang terkuat dan terbanyak) mengatakan bahwa ia hidup, sebagaimana
dijelaskan dalam Bab keutamaannya, dan mereka menakwilkan hadits – hadits ini bahwa
dia (khidir as) di laut dan bukan di daratan, atau hadits itu bermakan ‘Aammun makhsush
(maknanya umum tetapi ada pengecualian
). (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz
16 hal 90)

قال أبو اسحق يقال ان هذا الرجل هو الخضر عليه السلام أبو اسحق هذا هو ابراهيم بن سفيان راوى
الكتاب عن مسلم وكذا قال معمر فى جامعة فى أثر هذا الحديث كما ذكره ابن سفيان وهذا لبعض منه
بحياة الخضر عليه السلام وهو الصحيح
Berkata Imam Nawawi, bahwa berkata Abu Ishaq :
Dikatakan bahwa lelaki ini (hadits= lelaki yang dibunuh Dajjal lalu dihidupkan kembali, lalu akan dibunuh lagi namun Dajjal tak mampu berbuat kedua kalinya) adalah Khidir as, dan adapun Abu Ishaq ini adalah Ibrahim bin Sufyan, periwayat kitab dari Muslim, dan demikian pula dikatakan
oleh Ma’mar dalam Jaami’ah dalam penjelasan hadits ini, sebagaimana dijelaskan pula oleh Ibn Sufyan, dan ini adalah bagian dari kehidupan Khidir as dan ini adalah shahih
."
(Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 18 hal 72)

قال جعفر بن محمد فأخبرني أبي أن علي بن أبي طالب قال أتدرون من هذا هذا الخضر عليه
السلام
(ketika Rasul saw wafat, maka datanglah seorang pelayat yang mengucapkan kata – kata
dan doa), lalu berkata Ja’far bin Muhammad, dikabarkan oleh ayahku bahwa Ali bin Abi
Thalib kw berkata : “tahukah kalian siapa lelaki ini?, ia adalah Khidhir alaihissalam”
(Tafsir Imam Ibn katsir Juz 1 hal 436)

قال جعفر بن محمد فأخبرني أبي أن علي بن أبي طالب قال أتدرون من هذا هذا الخضر عليه
السلام
(ketika Rasul saw wafat, maka datanglah seorang pelayat yang mengucapkan kata dan doa) lalu berkata Ja’far bin Muhammad, dikabarkan oleh ayahku bahwa Ali bin Abi Thalib kw berkata : “tahukah kalian siapa lelaki ini?, ia adalah Khidhir alaihissalam
(Tafsir Imam Ibn katsir Juz 1 hal 436)

فقال بعضهم لبعض تعرفون الرجل فقال أبو بكر وعلي نعم هذا أخو رسول الله صلى الله عليه
والخضر عليه السلام
(ketika Rasul saw wafat, maka datanglah seorang pelayat yang mengucapkan kata - kata
dan doa) maka berkatalah para sahabat satu sama lain : kalian tahu siapa lelaki itu?,
maka berkata Abubakar dan Ali : Ya, ini adalah saudara Rasulullah saw Al Khidhir
alaihissalam. (Mustadrak Alaa Shahihain No.4392).

KISAH NABI KHIDIR DAN NABI MUSA?










Suatu hari Nabi Musa a.s mengumpulkan para pengikutnya beliau memberikan nasehat agar para pengikutnya selalu beriman kepada Allah dan beriman pada hari akhir serta hal-hal yang gaib.
Wahai kaumku adakah orang yang paling mengetahui hal-hal yang gahib?” tanya Nabi Musa pada suatu kesempatan.
“tidak ada satupun di antara kami yang mengetahui hal tersebut, wahai Musa” kata salah satu pengikutnya.
“ketahuilah bahwa aku adalah manusia yang paling mengetahui hal-hal yang ghaib” kata Nabi Musa.

Mendengar perkataan Nabi Musa, kaumnya hanya mengangguk-angguk saja.
Setelah kejadian itu, Nabi Musa ditegur oleh Allah swt, “Wahai Musa! Engkau tidak berhak berkata demikian. Ketahuilah, hai Musa ada hamba-ku yang paling mengetahui hal ghaib”
“siapakah hamba-mu itu, ya Allah?” tanya Nabi Musa penasaran.
“Jika engkau akan menemui hamba-ku, maka berjalanlah engkau. Jika sudah berada diantara pertemuan dua buah lautan maka berhentilah. Dia bernama Khidir” perintah Allah.


Nabi Musa kemudian pergi bersama sahabatnya yang bernama Yusya bin Nun dengan membawa ikan yang diletakkan di dalam keranjang sebagai perbekalan. Keduanya pergi dengan berjalan kaki. Sesampainya di sebuah batu yang ada di pinggir pantai, mereka berhenti. “Wahai sahabatku, sebaiknya kita berhenti sejenak untuk menghilangkan rasa lelah kita” kata Nabi Musa.
Ketika mereka beristirahat tanpa disadari ikan yang ada di dalam keranjang melompat dan jatuh kedalam laut, ikan itu masuk kedalam sebuah lengkungan yang sebelumnya sudah Allah sediakan, Yusya sangat terkejut melihat kejadian itu.
“masya Allah, apa yang telah terjadi dengan ikan yang kita bawa. Mengapa ikan itu dapat hidup kembali dan melompat ke arah laut?” tanya sahabat Nabi Musa dalam hatinya.
Setelah itu, Nabi Musa dan sahabatnya kemudian melanjutkan perjalanannya yang jauh, ketika mereka merasa lelah kembali dalam perjalanan, akhirnya mereka beristirahat sejenak.
Nabi Musa berkata kepada sahabatnya, “sahabatku sebaiknya kita beristirahat sejenak. Tolong keluarkan ikan yang kita bawa tadi”
Sahabat Nabi Musa beru teringat akan kejadian yang sebelumnya terjadi dan berkata “mohon maaf wahai Nabi Musa aku lupa memberitahukan bahwa ketika kita berhenti disebuah batu yang ada dipinggir laut, ternyata ikan itu melompat ke arah laut dengan cara yang aneh”
Nabi Musa pun berkata “Wahai sahabatku, itulah tempat yang kita cari selama ini! kalau begitu segera kita menuju kesana!”
Kemudian mereka berputar kembali ke arah yang sebelumnya. Sesampainya mereka di tempat yang dituju, yaitu pertemuan dua lautan, Nabi Musa melihat seseorang yang sedang duduk berselimutkan pakaian yang rapat.
Nabi Musa pun mengucapkan salam kepada orang yang sedang duduk tadi “assalamualaikum aku Musa. Apakah engkau yang bernama Khidir?” tanya Nabi Musa.
“waalaikumussalam, betul aku Khidir” jawab Nabi Khidir. “apakah betul engkau Musa dari Bani Israil?” tanya Khidir lagi.
“betul, ya Khidir” jawab Nabi Musa. “Wahai saudaraku Khidir, bolehkah aku mengikutimu untuk belajar ilmu yang engkau miliki?” pinta Nabi Musa.
“Wahai saudaraku Musa, ketahuilah sesungguhnya engkau, memiliki ilmu yang Allah ajarkan kepadamu yang aku tidak dapat mengetahuinya” jawab Nabi Khidir.
“Musa, sekali-kali Engkau tidak akan sabar bersama dengan diriku nanti” tambah Nabi Khidir.
“tolonglah wahai Khidir aku ingin sekali mengetahui ilmumu” pinta Nabi Musa.
“baiklah, jika Engkau ingin berilmu denganku, Engkau jangan sekali-kali bertanya dan menggugat apa yang aku lakukan” pinta Khidir.
“baik, aku akan melakukan apa yang kamu pinta” jawab Nabi Musa
Musa pun menyetujui permintaan Nabi Khidir. Nabi Musa dan Khidir kemudian berjalan sampai ke sebuah tepian pantai. Disana banyak terlihat perahu-perahu yang sedang bersandar. Mereka meminta kepada salah satu pemilik perahu untuk mengantarkan mereka ke seberang lautan.
“Wahai saudaraku, maukah engkau mengantarkan kami berdua ke seberang lautan?”  pinta Khidir.
Karena pemilik perahu sangat mengenal Nabi Khidir, pemilik perahu pun mengizinkan keduanya naik ke perahu dan mengantarkan mereka ke seberang lautan.
Kemudian datanglah seekor burung dan hinggap diatas layar perahu. Dilihatnya burung itu menukik kearah laut beberapa kali. Tiba-tiba Nabi Khidir berkata kepada Nabi Musa “Wahai Musa ilmu yang kita miliki tidak sebanding dengan ilmu Allah, ilmu kita hanyalah seperti lubang yang dibuat burung itu di laut”
Lalu Nabi Khidir bersandar ke dinding perahu dan langsung membocorkan perahu itu.
Alangkah kagetnya Nabi Musa melihat apa yang telah dilakuakn Nabi Khidir
“Wahai, Khidir! Apa yang telah engkau lakukan? Engkau telah merusak perahu milik orang yang telah memberikan kita tumpangan gratis. Bukankah perbuatanmu itu dapat merugikan si pemilik perahu? Kata Nabi Musa penasaran.
“Hai Musa, Engkau tidak boleh menanyakan apa yang telah aku lakukan. Kalau engkau ingin mengetahui ilmuku hendaknya diam” pinta Nabi Khidir
“maaf wahai saudaraku, aku khilaf dan lupa persetujuan kita. Mohon Engkau tidak menghukumku karena kekhilafanku” jawab Nabi Musa
Nabi Musa pun kemudian terdiam.
Akhirya mereka berdua pun sampai diseberang lautan dan melanjutkan lagi perjalanannya.
Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang pemuda yang gagah dan tampan wajahnya. Tiba-tiba Nabi Khidir menghampiri pemuda tersebut dan langsung membunuhnya. Alangkah kagetnya Nabi Musa melihat kejadian tersebut. Musa pun berkata, “Hai saudaraku Khidir, mengapa engkau membunuh pemuda yang tidak bersalah dan berdosa itu?”
Mendengar perkataan Nabi Musa, Nabi Khidir pun berkata “Hai Musa, kalau engkau bertanya lagi apa yang telah aku lakukan, maka Engkau harus meninggalkan diriku”
Nabi Musa pun hanya terdiam melihat kejadian itu. Kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanan kembali. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, sampailah mereka berdua di sebuah desa yang penduduknya terkenal kikir. Nabi Khidir memutuskan untuk beristirahat di desa tersebut. Karena mereka lapar. Nabi Khidir bermaksud meminta sedikit makanan dari penduduk desa tersebut. Satu persatu penduduk rumah mereka kunjungi.
“assalamualaikum, bolehkan kami meminta sedikit makanan untuk mengganjal perut kami yang kosong?” pinta Nabi Khidir
Namun, bukan makanan yang mereka dapatkan melainkan makian dan cacian.
“enak saja, kamu meminta-minta. Tak sudi aku membagi makanan pada kalian” hardik penduduk desa.
Nabi Musa dan Nabi Khidir hanya tersenyum saja menanggapi cacian penduduk desa. Karena tidak dapat pertolongan, mereka memutuskan meninggalkan desa tersebut. Ketika mereka sampai di perbatasan desa, Nabi Khidir melihat sebuah rumah yang hampir roboh. Saat itu juga Nabi Khidir memperbaiki rumah itu. Dalam waktu singkat, rumah itu kembali berdiri kokoh. Melihat itu Nabi Musa merasa heran dan berkata “Wahai Nabi Khidir, apa yang telah engkau lakukan? Bukankah penduduk desa ini terlah menghina dan mengusir kita? Bahkan kita tidak diberikan makanan sedikitpun. Mengapa engkau memperbaiki rumah penduduk itu dengan tidak meminta upah dari mereka?”
Nabi Khidir hanya tersenyum dan berkata dengan lembut kepada Nabi Musa “Wahai Musa, ternnyata Engkau tidak sabar dengan apa yang aku lakukan! Kalau begitu, wahai Musa cukup Engkau bersamaku sampai disini”
“baiklah, hai Musa akan aku jelaskan mengapa aku melakuakn tiga hal yang kamu anggap aneh” kata Nabi Khidir lagi
“tolong jelaskan apa yang telah engkau lakukan agar aku paham” sambung Nabi Musa
“pertama, ketika aku membocorkan perahu. Ketahuilah bahwa sang pemilik perahu adalah nelayan yang sangat miskin dan hanya hidup dari perahu tersebut. Tak lama setelah kita meninggalkan tempat itu datang gerombolan perampok yang membawa pergi perahu-perahu milik nelayan. Semua perahu yang bagus-bagus dirampas oleh para perampok, yang tersisa hanyalah perahu si nelayan miskin yang sebelumnya telah aku bocori” kata Nabi Khidir
“kedua, ketika aku membunuh seorang pemuda. Ketahuilah bahwa pemuda itu seorang penyembah berhala. Pemuda itu hendak pulang kerumah orang tuanya untuk mengajak mereka menyembah berhala. Sementara kedua orang tuanya sejak lama beriman kepada Allah. Aku khawatir orang tuanya yang sangat sayang kepada anak itu akan menuruti perintahnya untuk menyembah berhala. Lebih baik aku bunuh saja agar orang tuanya tetap beriman kepada Allah. Dan aku berharap Allah mengganti keturunan orang tua itu dengan seorang anak yang lebih baik” jelas Nabi Khidir.
“ketiga, ketika aku memperbaiki rumah yang hampir roboh.sesungguhnya yang memiliki rumah tersebut adalah anak yang kedua orang tuanya telah meninggal. Didalamnya terdapat harta orang tua sang anak yatim. Aku khawator jika roboh, banyak penduduk desa yang akan merampas harta milik anak yatim tersebut. Begitulah hai Musa penjelasanku, ketahuilah bahwa apa yang telah aku lakukan merupakan petunjuk dan rahmat dari Allah” tutur Nabi Khidir menjelaskan kembali.
“baiklah wahai Musa kita berpisah sampai disini, karena ilmu yang aku miliki dan yang engkau miliki sangatlah berbeda” tutur Nabi Khidir.
Setelah itu, Nabi Musa dan Nabi Khidir berpisah dan tidak bertemu kembali

KISAH ROMANTIS

Kisah-Romantis











KISAH ROMANTIS >> Ada rahasia terdalam di hati 'Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn 'Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka'bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

'Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

"Allah mengujiku rupanya", begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti 'Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara 'Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; 'Utsman, 'Abdurrahman ibn 'Auf, Thalhah, Zubair, Sa'd ibn Abi Waqqash, Mush'ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti 'Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, 'Abdullah ibn Mas'ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan 'Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

'Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. "Inilah persaudaraan dan cinta", gumam 'Ali.

"Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku."

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

'Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. 'Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah 'Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya 'Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, 'Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, "Aku datang bersama Abu Bakar dan 'Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan 'Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan 'Umar.."

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana 'Umar melakukannya. 'Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

'Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka'bah. "Wahai Quraisy", katanya. "Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang 'Umar di balik bukit ini!" 'Umar adalah lelaki pemberani. 'Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. 'Umar jauh lebih layak. Dan 'Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka 'Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran 'Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti 'Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi'kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya 'Abdurrahman ibn 'Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa'd ibn Mu'adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn 'Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

"Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?", kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. "Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. "

"Aku?", tanyanya tak yakin.

"Ya. Engkau wahai saudaraku!"

"Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?"

"Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!"

'Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

"Engkau pemuda sejati wahai 'Ali!", begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, "Ahlan wa sahlan!" Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

"Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?"

"Entahlah.."

"Apa maksudmu?"

"Menurut kalian apakah 'Ahlan wa Sahlan' berarti sebuah jawaban!"

"Dasar tolol! Tolol!", kata mereka,

"Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !"

Dan 'Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, 'Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

'Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, "Laa fatan illa 'Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!" Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti 'Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada 'Ali, "Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda"

'Ali terkejut dan berkata, "kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?"

Sambil tersenyum Fathimah berkata, "Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu" ini merupakan sisiROMANTIS dari hubungan mereka berdua.

Kemudian Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut."

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

"Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak." (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).


Kisah Romantis ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul "Mencintai sejantan 'Ali"