This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 6 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Dalam Negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dalam Negeri. Tampilkan semua postingan

8.13.2014

Indonesia Tak Akan Akui Hubungan Diplomatik dengan Israel

 "Posisi kita, sampai kapan pun, tidak akan mengakui hubungan diplomatik dengan Israel hingga Palestina merdeka," ujar Direktur Timur Tengah Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Febrian A. Ruddyard.






Pembebasan Palestina, dari hari al Quds sampai al Quds Palestina.jpg



Pemerintah Indonesia berkomitmen mendukung kemerdekaan Palestina dengan cara tidak mengakui hubungan diplomatik dengan Israel hingga Palestina merdeka.

"Posisi kita, sampai kapan pun, tidak akan mengakui hubungan diplomatik dengan Israel hingga Palestina merdeka," ujar Direktur Timur Tengah Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Febrian A. Ruddyard.

Febrian mengemukakan hal itu dalam konferensi pers yang diselenggarakan salah satu lembaga kemanusiaan di Jakarta, Selasa (12/8/14).

Ia mengungkapkan, langkah tersebut merupakan salah satu bentuk tekanan pada Israel agar segera menghentikan penjajahan pada Palestina. Bentuk tekanan lainnya adalah ajakan pada masyarakat untuk tidak membeli barang-barang produksi Israel dan negara-negara yang mendukung Israel.

Tak hanya itu, menurut Febrian, Indonesia juga akan terus mendukung Palestina agar statusnya dapat diakui dunia internasional.

"Palestina itu negara yang objektif merdeka, tapi untuk memperoleh status ini kita harus berjuang. Tantangannya luar biasa," katanya.

Ia menambahkan, Indonesia bersama negara-negara di Asia Afrika berkomitmen meningkatkan kemampuan rakyat Palestina mengelola sendiri negaranya.

"Kita bersama negara-negara di Asia Afrika berkomitmen pada 2014 hingga 2019 melatih 10 ribu orang Palestina di bidang pemerintahan," ujar Febrian.

6.27.2014

Surat Terbuka Kepada Media di Indonesia Tentang Irak

tembak Syiah, ya tembak Sunnah


Kenyataannya Sunni dan Syiah sama-sama dibantai di Suriah dan Irak oleh pemberontak bernama DAIS atau ISIL ini. Ulama Sunni tak sedikit yang dibunuh hanya karena menyerukan persatuan dan menolak untuk mengikuti logika pemberontak bersenjata ini. Warga Sunni di Irak seperti juga warga Syiah sama-sama jadi korban kebengisan DAIS tak terbantahkan.

Perkenalkan saya Hertasning Ichlas orang biasa yang ketepatan berada di Irak di saat perang pemberontakan baru saja berkecamuk di negeri itu.

Saya baru saja pulang dari Irak pada hari Sabtu lalu 21 Juni 2014. Salah satu yang saya lakukan di sana menulis reportase kasus pendudukan Daulah Islamiyyah Fil Irak wa Sham (DAIS) atau bahasa Inggrisnya Islamic State of Irak and Levant (ISIL) di Irak untuk Majalah Geo Times di Indonesia.

Saya mengamati pemberitaan Kompas, MetroTV dan media nasional lainnya soal Irak serta penggunaan diksi “milisi Sunnah” “pejuang Sunni” bahkan “Mujahidin Sunni” dalam pemberitaan untuk memberi atribusi kepada pemberontak bersenjata DAIS/ISIL di Irak.

Terus terang saya prihatin dan kecewa terhadap cara media nasional umumnya dalam melihat masalah di Irak dan kebijakan memilih diksi seperti “milisi Sunnah” “pejuang Sunni” atau bahkan “Mujahidin Sunni”.

Menurut saya hal itu bisa membangkitkan kesalahpahaman yang serius seolah-olah masalah di Irak adalah pertempuran Sunni melawan Syiah. Sunni dan Syiah sama-sama dirugikan oleh cara pemberitaan yang tidak bertanggung jawab seperti itu.

Masalah di Irak bukan perang mazhab antara Sunni dan Syiah. Masalah di Irak persis seperti Suriah. Ada pemberontak bersenjata dengan rekrutmen bersifat transnasional berpaham takfiri yang cenderung hitam putih dalam beragama dan suka mengkafirkan dan menghabisi siapa saja yang berbeda dengan mereka baik Sunni atau Syiah serta Kristen demi membentuk utopia politik mereka Daulah Islamiyyah di Irak dan Shams (Suriah dan sekitarnya).

Sponsor senjata dan logistik di belakang DAIS/ISIL awalnya Arab Saudi, Qatar, Yordan, Israel dan AS dengan kepentingannya masing-masing. Meskipun pada perjalanannya AS dan Qatar berusaha menarik diri karena merasa tak bisa mengontrol sepak terjang DAIS atau ISIL ini.

Kenyataannya Sunni dan Syiah sama-sama dibantai di Suriah dan Irak oleh pemberontak bernama DAIS atau ISIL ini. Ulama Sunni tak sedikit yang dibunuh hanya karena menyerukan persatuan dan menolak untuk mengikuti logika pemberontak bersenjata ini. Warga Sunni di Irak seperti juga warga Syiah sama-sama jadi korban kebengisan DAIS tak terbantahkan.

Situs-situs yang dihormati Sunni maupun Syiah utamana seperti Syekh Abdul Qodir Jaelani mereka rusak. Suku Kurdi di Irak pun menjadi korban kebengisan DAIS.

Saya melihat sikap media nasional yang merasa masalah di Irak adalah masalah mazhab dan agama sungguh tidak cermat, berbahaya dan kekurangan pendalaman empiris dan konteks. Ada konsekeunsi yang sangat fatal jika media mengunyah begitu saja liputan kantor berita asing yang punya bias dan misi propagandanya masing-masing.

Benar saja Nouri Maliki memang punya banyak kritik dan protes dari pihak Sunni di Irak. Tapi hal itu tak unik hanya Sunni dan bukan soal sentimen Mazhab karena sebagian besar ulama Syiah di Irak bahkan Marja besar di Irak Sayyid Ali Sistani juga menyimpan kritik terhadap Nouri Maliki. Tapi soal-soal tersebut adalah masalah politik dalam negeri Irak yang punya kepentingan-kepentingan pragmatisnya.

Media nasional kita harus punya kecermatan dan lebih bekerja keras mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Irak sehingga dapat sampai pada fakta bahwa semenjak DAIS atau ISIL masuk Irak, menduduki Anbar, Samarra dan terutama Mosul, Nouri Maliki kontan mendapat dukungan penuh rakyat dan kekuatan sosial politik Sunni, Syiah, Kurdi dan Kristen di Irak atas nama kedaulatan Irak. Berduyun-duyun warga mendaftarkan diri menjadi sukarelawan perang untuk mengusir DAIS/ISIL. Tercatat saat saya hendak meninggalkan Irak, lebih dari 2 juta sukarelawan sudah terdaftar dan sebagiannya sudah diberangkat ke lokasi.

DAIS atau ISIL adalah gerakan pemberontak bersenjata. Mereka membawa kehancuran kemanusiaan dan pecah-belah dalam agendanya. Propaganda mereka menyebar dalam situs-situs termasuk di Indonesia. Tolong jangan menganggap mereka sebagai milisi Sunnah atau pejuang Sunni karena itu sangat manipulatif dan bisa meresahkan umat di Indonesia.

Sunnah dan Syiah secara serius sedang dipecah-belah dan itu secara instan diperburuk oleh pemberitaan media yang tidak bertanggung jawab. Demikian, terima kasih.

Salam,
Hertasning Ichlas Koordinator YLBHU

Indonesia dan Iran Tingkatkan Kerjasama Riset dan Teknologi

Bapak duta dan Mentri Riset Teknologi di Tehran (Islam Times)


"Kedua negara mempunyai potensi besar untuk meningkatkan kerjasama termasuk di bidang riset dan teknologi," ujarnya yang juga dihadiri bapak duta besar Indonesia di Tehran, Dian Wirengjurit.

Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta dalam kunjungan resmi dua hari ke Iran, mengatakan, Indonesia dan Iran terus meningkatkan kerjasama di berbagai bidang riset dan teknologi berdasarkan kesetaraan dan kesejajaran dengan membentuk Joint Committee penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi kolaboratif.

Pernyataan itu diutarakan oleh Mentri dalam ramah tamah dengan masyarakat Indonesia di Iran bertempat wisma duta di Tehran, pada Rabu sore (25/06/14).

Menurut Mentri Kabinet Indonesia Bersatu II itu, "Kedua negara mempunyai potensi besar untuk meningkatkan kerjasama termasuk di bidang riset dan teknologi," ujarnya. Acara ramah tamah itu dihadiri bapak duta besar Indonesia di Tehran, Dian Wirengjurit beserta staf kedutaan.

Dikatakanya, ada banyak hal yang bisa dimanfaatkan oleh kedua negara, termasuk transfer teknologi ruang angkasa, PLTN, kedokteran dan berbagai jenis teknologi modern lainnya.

Diakuinya, Indonesia dalam bidang pertanian jauh lebih maju dan mumpuni dibanding Iran.

Menindaklanjuti MoU Joint Committee diberbagai bidang tersebut, Menristek akan mengirim para ahli untuk menindaklajuti kerjasama yang menurutnya setara dan sejajar.

Sebelumnya, kerjasama serupa antara Indonesia dan Iran sudah dimulai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara kedua negara pada tanggal 10 Mei 2006 lalu.

Sementara, pada tahun 2003, kerjasama kedua negara di bidang riset dan iptek mulai dijajaki saat Menristek pada waktu itu Hatta Rajasa berkunjung ke Iran atas undangan Menteri Sains, Riset dan Teknologi Iran, Mostafa Moin.

Keduanya menandatangani Pernyataan Bersama yang berisikan tekad kedua belah pihak untuk meningkatkan hubungan persahabatan dan hubungan kerjasama di bidang riset dan iptek untuk meningkatkan pembangunan sosial ekonomi kedua negara. Tahun ini, Iran kembali mengundang Menristek untuk berkunjung ke Iran dan sekaligus menandatangani perpanjangan Nota Kesepahaman yang mendasari kerjasama riset dan iptek kedua negara.

Berdasarkan nota kesepahaman itu, kerjasama itu meliputi penelitian bersama, pertukaran para peneliti, pelatihan kerja, beasiswa dan kunjungan delegasi ilmiah.

Acara ramah tamah penuh kekeluargaan tersebut dihadiri juga oleh mahawasiswa Iran di Qom (HPI) dan Tehran, serta masyarakat Indonesia di Tehran.



Source : http://www.islamtimes.org

Dian Wirengjurit: Hubungan Iran-Indonesia Kesetaraan dan Menghormati

Bapak duta dan menristek (Islam Times)


Menurut Dian, Iran adalah negara yang tidak bergantung dengan negara lain, dan mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju di dunia diberbagai bidang termasuk, riset dan teknologi dan bisa ditranfser ke Indonesia tanpa syarat.

Duta Besar Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit mengatakan, hubungan Indonesia dan Iran diberbagai bidang terutama Iptek dan Teknologi terjalin atas dasar kesetaraan, saling menghormati dan tanpa syarat. Kondisi ini menurutnya, berbeda dengan kerjasama antara negara-negara Barat yang selalu mendikte dan syarat yang memberatkan.

Pernyataan itu diutarakan oleh Bapak Duta dalam sambutan pertemuan dan ramah tamah dengan Mentri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta di Tehran pada Rabu sore, 25/06/14, di Wisma duta, di Tehran.

Dikatakannya, Iran adalah negara yang tidak bergantung dengan negara lain, dan mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju di dunia diberbagai bidang termasuk, riset dan teknologi. Ditambahkannya, kemajuan teknologi Iran tersebut bisa ditransfer ke Indonesia tanpa syarat.

"Iran negara yang tidak bergantung dengan negara lain, dan merupakan salah satu negara penuh peradaban yang bisa mentransfer kemajuannya ke Indonesia, dan bisa mempertahankan hubungan kesetaraan tanpa syarat."

Kerjasama di bidang riset dan iptek antara Indonesia dengan Iran secara resmi dimulai pada tahun 2006 yang ditandai dengan penandatantangan Nota Kesepahaman antara Menteri Riset dan Teknologi saat itu, Kusmayanto Kadiman dengan Menteri Luar Negeri Iran, di hadapan presiden SBY dan Presiden Mahmoud Ahmadinedjad.

Sejak itu, kedua negara membentuk Joint Committee Meeting (JCM) on Research and Technology yang sampai saat ini telah bertemu sebanyak empat kali baik di Iran maupun di Indonesia untuk membicarakan perkembangan kerja sama di bidang riset dan iptek. Kerjasama kedua negara diarahkan kepada iptek sebagai solusi atas permasalahan global saat ini.

Satu dari empat ahli riset dari perwakilan Kementrian Indonesia yang dipimpin langsung oleh Menristek Gusti Muhammad Hatta itu dalam bincang-bincang dengan Islam Times mengatakan, selama ini Indonesia dan Iran memfokuskan kerjasama riset dan ipteknya dalam beberapa bidang, termasuk ilmu kebumian, ruang angkasa, nanoteknologi, teknologi kedirgantaraan, ilmu kedokteran dan sel punca, serta bioteknologi.


Source : http://www.islamtimes.org

6.22.2014

Wirengjurit: Indonesia Ingin Kembangkan Kerjasama Ekonomi dengan Iran

Dian Wirengjurit : Hubungan Iran - Indonesia.jpg


 Ia juga mengatakan, Iran-Indonesia memiliki kesamaan sejarah dan budaya yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mempromosikan kerjasama ekonomi mereka.

Duta besar Indonesia untuk Tehran, Dian Wirengjurit mengatakan, Jakarta tertarik memperluas kerjasama ekonomi dengan Tehran.

Dalam sebuah pertemuan di provinsi Markazi, Iran pada Kamis (19/6/14), Wirengjurit memuji potensi ekonomi Iran. Ia juga mengatakan, Iran-Indonesia memiliki kesamaan sejarah dan budaya yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mempromosikan kerjasama ekonomi mereka.

Wirengjurit menggarisbawahi, Indonesia tertarik meningkatkan hubungan ekonomi dengan negara-negara Muslim, termasuk Iran.

Pejabat Iran itu juga menggarisbawahi perlunya perluasan hubungan ekonomi dengan Indonesia.

Kepala Kamar Dagang Iran, Gholam-Hossein Shafeyee Februari lalu mengumumkan bahwa Iran dan Indonesia berencana membuka kamar dagang bersama dalam waktu dekat ini.


Source :http://islamtimes.org

6.18.2014

Vivanews, What Do You Want?

Vivanews corong Takfiri


“Saya takut ISIS, mereka mungkin membunuh saya dengan berbagai alasan: karena saya bekerja sebagai pegawai pemerintah, atau saat mereka melihat bahwa saya tidak pergi ke masjid dan berdoa seperti yang mereka kehendaki, atau bisa juga saya dibunuh karena jenggot saya tidak cukup panjang.”

Jutaan rakyat Irak berduyun-duyun bergabung menjadi relawan untuk membantu Tentara Irak memerangi ISIS. Ulama-ulama Sunni dan Syiah juga menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat Irak untuk mengangkat senjata. Wanita-wanita Irak pun tak ketinggalan berlatih menggunakan senjata – minimal untuk melindungi diri mereka sendiri. Namun anehnya, di tanah air, muncul berita janggal dari VivaNews: “ISIS Keras Terhadap Tentara, Lembut Terhadap Warga Irak.”

Menurut Viva, mengutip kesaksian warga, pasukan ISIS konon sangat rendah hati dan tidak meneror penduduk sipil. Hanya terlihat beberapa militan ISIS yang mengenakan penutup hitam, itu pun hanya di pos pemeriksaan. “Tidak, tidak, tidak. Sebaliknya, mereka menyambut baik masyarakat,” kata seorang wanita saat ditanya apakah ISIS menyakiti warga.

Benarkah demikian?

Human Right Watch (HRW), melaporkan pada 12 Juni 2014, bahwa pihaknya telah mendokumentasikan kejahatan yang dilakukan oleh ISIS, baik di Irak maupun Suriah. Kejahatannya antara lain: serangan dengan menggunakan mobil bom bunuh diri di wilayah sipil, melakukan eksekusi, penyiksaan dalam tahanan, diskriminasi terhadap perempuan, dan perusakan terhadap situs-situs keagamaan yang dihormati.

“Kemungkinan ISIS akan mengulangi kekejaman yang telah dilakukan [di Suriah] terhadap Irak, dan memaksakan aturan intoleran dan brutal… ” jelas Nadim Houry, wakil direktur Human Rights Watch di Timur Tengah.

Lalu, bagaimana tanggapan masyarakat Irak dengan hadirnya ISIS?

“Saya tidak merasakan aman sedikitpun,” kata seorang warga Mosul, kepada HRW.

“Saya takut ISIS, mereka mungkin membunuh saya dengan berbagai alasan: karena saya bekerja sebagai pegawai pemerintah, atau saat mereka melihat bahwa saya tidak pergi ke masjid dan berdoa seperti yang mereka kehendaki, atau bisa juga saya dibunuh karena jenggot saya tidak cukup panjang.”

Pada bulan Mei, sebelum ISIS benar-benar menguasai Mosul secara penuh, HRW telah mencatat banyak pelanggaran terhadap warga sipil oleh kelompok lokal di kota dan daerah sekitar selama enam bulan sebelumnya. Termasuk 10 eksekusi, dua kali penculikan, dan beberapa serangan terhadap wartawan.

Jika benar ISIS berlaku baik kepada rakyat Irak, lantas, buat apa mereka berbondong-bondong menjadi relawan untuk membantu Tentara Irak menumpas ISIS? Vivanews, what do you want? [IT/Liputan Islam]

Sumber Liputan Islam dengan judul asli; Membongkar Propaganda Vivanews atas Irak


Source : http://islamtimes.org

Dibiarkan Pemerintah, Pro ISIS Indonesia Makin Unjuk Gigi

ISIS Indonesia


"Mari kita berjuang di jalan Allah karena itu adalah tugas kita untuk melakukan jihad di jalan Allah ... terutama di sini di Syam [wilayah Suriah] ... dan karena, insya Allah, ke negara inilah keluarga kami akan berhijrah," kata salah seorang dalam bahasa Indonesia yang dibumbui dengan frase bahasa Arab.

Sebuah video yang dipoting di laman Youtube memperlihatkan beberapa lelaki mengenakan balaklava (penutup wajah) sedang menggenggam senapan Kalashnikov seraya melihat ke arah kamera, di suatu tempat di Suriah. "Mereka adalah mahasiswa, pengusaha, mantan tentara, dan bahkan remaja," ungkap jurnalis investigatif, Yenni Kwok dalam laporannya yang dimuat Time.

Mereka mendesak rekan-rekan senegaranya untuk bergabung dengan, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), kawanan "jihadis" sangat ekstrim binaan Arab Saudi cs. "Tapi, mereka bukan warga Suriah, Uzbek, atau Chechnya; mereka warga Indonesia," tulis Kwok.

"Mari kita berjuang di jalan Allah karena itu adalah tugas kita untuk melakukan jihad di jalan Allah ... terutama di sini di Syam [wilayah Suriah] ... dan karena, insya Allah, ke negara inilah keluarga kami akan berhijrah," kata salah seorang dalam bahasa Indonesia yang dibumbui dengan frase bahasa Arab. "Saudara-saudaraku di Indonesia, jangan takut karena ketakutan adalah godaan setan."

"Jihadis lain, seorang mantan tentara Indonesia, menyerukan sesama aparat tentara dan polisi untuk bertobat dan meninggalkan pertahanan negara mereka dan 'berhala' ideologi negara, Pancasila," imbuh Kwok.

Video itu muncul sesaat sebelum ISIS merebut kota-kota Irak, Mosul dan Tikrit, pada 10 dan 11 Juni lalu. "Ini mencerminkan berkembangnya daya tarik kawanan ekstremis Wahhabi itu terhadap para jihadis Indonesia paling militan (negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, dan sudah lama berjuang mengatasi ancaman terorisme)," papar Kwok.

"Seperti di Suriah, gerakan jihadis Wahhabi juga terbelah di Indonesia," kata Sidney Jones, direktur Institute for Policy Analysis of Conflict yang berbasis di Jakarta kepada TIME. Beberapa jihadis Indonesia, termasuk banyak pemimpin senior Jemaah Islamiyah (JI, kelompok teroris di belakang pengeboman Bali tahun 2002 dan serangan teroris lainnya) setia pada aliansi di sekitar Front al-Nusra dan al-Qaeda, katanya, "sementara sebagian besar yang lebih militan, kelompok-kelompok non-JI, mendukung ISIS."

Menurut sebuah laporan terbaru, konflik Suriah telah memikat sekitar 12 ribu jihadis asing, sebagian besar dari negara-negara tetangga di Timur Tengah, dan selebihnya berasal dari Eropa, Australia, Amerika Serikat, dan negara-negara Asia Tenggara.

Pada bulan Januari, badan anti-terorisme di Indonesia memperkirakan sekitar 50 warga Indonesia ikut berperang di Suriah, meskipun tidak diketahui, berapa banyak dari mereka yang bergabung dengan ISIS. Sementara itu, seorang pejabat keamanan Malaysia mengatakan, lebih dari 20 warga Malaysia diketahui telah memasuki Suriah untuk ikut memberontak melawan pemerintah Bashar al-Assad.

Pada hari Sabtu (14/6), media Malaysia melaporkan bahwa Ahmad Tarmimi Maliki, yang mengebom markas militer Irak, mendapat "kehormatan yang meragukan karena menjadi pelaku bom bunuh diri pertama Malaysia yang terkait dengan" ISIS. Beberapa bulan sebelumnya, pada bulan November 2013, muncul laporan bahwa Riza Fardi, yang sempat mengenyam pendidikan di pesantren terkenal Ngruki, Jawa Tengah (pesantren yang juga pernah dihuni para pelaku bom Bali) menjadi jihadis Indonesia pertama yang setor nyawa di Suriah.

Sementara ancaman teroris di Asia Tenggara telah menyusut, berkat pemenjaraan dan kematian tokoh-tokoh jihadis seniornya, perang sipil di Suriah, dan sekarang di Irak, telah memunculkan momok kepulangan kawanan jihadis yang memiliki pengetahuan tentang terorisme dan pandangan militan (tidak seperti kawanan pendahulunya yang kembali dari perang Afghanistan pada 1980-an). "Para pejuang yang pulang itu mengalami indoktrinasi yang lebih mendalam, lebih banyak kontak internasional, dan mungkin komitmen yang lebih mendalam terhadap jihad global," kata Jones.

Menurut Kwok, perang Suriah tiga tahun telah memikat lebih banyak jihadis asing ketimbang perang Afghanistan. Salah satu alasan yang mungkin adalah nubuat yang populer di kalangan jihadis global, tentang pertempuran terakhir sebelum Hari Penghakiman. "Terdapat hadis, atau perkataan Nabi Muhammad, yang memprediksi perang apokaliptik, kebaikan versus kejahatan, dan menurut salah satu hadis, itu akan mulai di Suriah," kata Solahudin, pakar terorisme yang berbasis di Jakarta.

Indonesia memiliki pendekatan yang berbeda terhadap jihadisme dibandingkan negara tetangganya. "Meskipun serangan teroris dapat dihukum mati, namun mengumpulkan uang atau bergabung dengan kelompok jihadis asing bukanlah perkara ilegal," ungkap Kwok.

Sebaliknya, pada akhir April lalu, Malaysia menangkap 10 gerilyawan (delapan pria dan dua wanita) yang berencana bertolak ke Suriah untuk ikut ambil bagian dalam perang. Pada bulan Maret, Singapura mengatakan sedang menyelidiki kepergian warganya untuk bergabung dengan jihadis Suriah.

"Dikarenakan sikap yang lebih toleran di Indonesia, para pendukung ISIS di sana menjadi lebih terlihat dan secara terbuka meminta dana," ujar Kwok. Mereka, lanjutnya, mengadakan aksi pengumpulan dana dan sumpah setia terhadap ISIS pada bulan Februari lalu di universitas negara Islam di pinggiran Jakarta dan menggelar unjuk rasa di kawasan pusat bisnis ibukota pada bulan Maret.

Minggu pagi kemarin (15 Juni 2014), saat salah satu jalan utama di Solo, Jawa Tengah, dijadikan zona bebas mobil mingguan untuk berjalan-jalan keluarga, tiba-tiba militan Jamaah Ansharut Tauhid, sempalan JI, mengarak lencana ISIS, mengibarkan bendera ISIS dan mendatangkan malapetaka pada pertunjukan musik.

"Mereka juga cukup aktif di Twitter, Facebook, dan YouTube," imbuh Kwok. Iqbal Kholidi, yang melacak dan mengamati pendukung ISIS Indonesia di media sosial, memperliharkan foto mereka sedang berlatih dan mengusung bendera hitam di seluruh negeri (Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, dan Poso, Sulawesi Tengah). Mereka menjadi lebih berani dalam beberapa bulan terakhir, kata Iqbal sebagaimana dikutip Time, yang mungkin "karena muncul kesan bahwa pemerintah hanya diam saja selama ini."


Source : http://islamtimes.org

5.30.2014

Ketika Ayatullah Sholat Di Belakang Ulama Sunni Indonesia

a'rafi3







Pada tanggal 13-17 Mei 2014 lalu, seorang ulama terkenal Iran, Ayatullah Ali Reza A’rafi berkunjung ke Indonesia. Di antara acara yang dihadiri Ayatullah A’rafi adalah Seminar Internasional bertema “Islamisasi Sains” (beliau menjadi salah satu narasumber), pertemuan dengan ulama Ahlus-sunnah Indonesia, sholat Jumat dan ceramah di masjid Istiqlal, dan berkunjung ke Pesantren Ash-Shiddiqiyah Jakarta.
Terlihat pemandangan menarik saat Ayatullah A’rafi berada di masjid Istiqlal. Beliau duduk terpisah hanya empat orang dari salah satu Capres Indonesia, Prabowo Subianto, dan di sebelah Prabowo terlihat Menteri Agama, Suryadharma Ali (SDA). Usai sholat, Prabowo, SDA, dan Ayatullah A’rafi terlihat berjabat tangan dan berbincang-bincang informal selama beberapa menit. Kemudian, Ayatullah A’rafi pun menyampaikan ceramahnya.
Ayatullah A'rafi ceramah di Istiqlal
Ayatullah A’rafi ceramah di Istiqlal
Di antara yang disampaikan oleh Ayatullah A’rafi adalah rasa senangnya karena dapat berkunjung kembali ke Indonesia untuk kedua kalinya. Dalam bahasa Arab, Ayatullah A’rafi memuji bangsa Indonesia sebagai negeri mayoritas muslim yang memiliki kecenderungan kuat untuk menjalankan kehidupan relijius, bersikap rasional, dan moderat. Beliau mendoakan agar bangsa Indonesia semakin maju.
Beliau menekankan tentang pentingnya persatuan kaum muslimin.
“Satu-satunya pihak yang diuntungkan oleh perpecahan umat adalah kekuatan arogan dunia,” tegas Ayatullah A’rafi.
Ayatullah A'rafi Dikerubuti Massa
Ayatullah A’rafi Dikerubuti Massa
Ayatullah A’rafi juga menyatakan bahwa semua mazhab dalam Islam mendapatkan tempat yang mulia dan terhormat di sisi madzhab Syiah (mazhab yang menjadi landasan hukum Republik Islam Iran). Dan Iran selama ini selalu bersahabat dengan seluruh kaum Muslimin dunia.
“Dukungan Republik Islam Iran kepada Palestina selama tiga puluh tahun terakhir ini adalah bukti yg tak terbantahkan dari hal ini,” ujar Ayatullah A’rafi.
Usai ceramah, para jamaah masjid mengerubuti Ayatulla A’rafi, untuk berjabat tangan, atau memotret.
Sementara itu, dalam pertemuan dengan Ulama Ahlus-Sunnah yang digelar Jumat malam (16/5) di Hotel Kristal, Jakarta, Ayatullah A’rafi menjelaskan sistem pendidikan tinggi di Iran. Yaitu, hauzah (pesantren) dan universitas. Dalam pertemuan yang dihadiri perwakilan dari Muhammadiyah, NU, MUI, dosen UIN, dan para kiai ini, beliau juga menjelaskan berbagai pencapaian Iran di bidang ilmu pengetahuan, baik sains maupun ilmu-ilmu keislaman.
Ayatullah A'rafi dan KH Noer Iskandar SQ
Ayatullah A’rafi dan KH Noer Iskandar SQ
Lebih lanjut, Ayatullah A’rafi berpesan agar para ulama dan ilmuwan Muslim Indonesia berupaya dengan gigih dalam meletakkan dasar-dasar bagi tegaknya bangunan peradaban Islam yang baru.
“Caranya adalah dengan memperkenalkan konsep-konsep yang ada di dalam ajaran Islam sebagai solusi untuk menjawab kebutuhan manusia modern,” kata Ayatullah A’rafi.
Selain itu, beliau juga berpesan agar kaum Muslimin menjauhi perpecahan; mewaspadai adanya gerakan dari kelompok garis keras yang mentargetkan perpecahan di antara sesama ummat Islam.
Sholat berjamaah di Ponpes Ash-Shidiqiyah
Sholat berjamaah di Ponpes Ash-Shidiqiyah
Dalam rangkaian kunjungannya ke Indonesia ini, Ayatullah A’rafi juga menziarahi KH Noer Muhammad Iskandar SQ, pendiri Pesantren Ash-Shidiqiyah yang tengah dirawat di rumah sakit. Ayatullah A’rafi juga berkunjung ke pesantren tersebut, menyampaikan ceramah, dan sholat berjamaah bersama para santri.

5.20.2014

Mahasiswa Tazkia Gelar Festival Ekonomi Islam

STEI Tazkia







SENTUL -- Mahasiswa Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia kembali mengadakan acara tahunannya yaitu Days of Islamic Economic Revival (DINAR). DINAR yang merupakan acara tahunan mahasiswa STEI Tazkia diselenggarakan pada 11-18 Mei 2014 di kampus utama STEI Tazkia, Sentul.

Pada tahun ini, DINAR yang mengangkat tema “Islamic Human Resources for Islamic Economic” menyuguhkan banyak rangkaian acara serta kompetisi. 

Diantara banyaknya rangkaian acara yang ada, acara pertama ialah Tabligh Akbar yang diselenggarakan pada hari Ahad, 11 Mei 2014. Tabligh Akbar yang merupakan soft opening DINAR 2014 diisi dengan kajian Sukses Kaya Bahagia (SKB) oleh M. Syafii’i Antonio yang merupakan pakar ekonomi Islam sekaligus sebagai rektor STEI Tazkia. 

Dalam acara DINAR ini diisi juga dengan acara bedah buku “Keajaiban Rezeki” oleh penulisnya yaitu Ippho Santosa. Selanjutnya ada juga tabligh akbar DINAR 2014 yang mendapatkan respon positif dari masyarakat masyarakat serta pelajar dan mahasiswa yang datang hingga mencapai ribuan orang.

DINAR 2014 juga memberi sebuah persembahan kepada para muslimah berupa seminar talkshow Women Days Out (WDO) bersama Nurhayati Subakat, Owner Wardah; Diajeng Lestari, Owner Hijup.com; Jenahara, salah satu designer terbaik Indonesia; Chikita Fawzi, Animator; Fifi Alviano, Journalist; dan Gaida Suraya, Designer.



Sumber : http://www.republika.co.id/

5.18.2014

BMH Bagikan Bantuan Biaya Pendidikan 1000 Anak Dhuafa Surabaya

Lembaga Amil zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH)  berbagi 10.000 paket peralatan sekolah dalam “Program Senyum Anak Indonesia”.
Di Surabaya sendiri tercatat sebanyak 1000 anak yang menjadi dampingan BMH selama satu tahun ini.
Disamping menerima bantuan peralatan sekolah, mereka juga menerima bantuan biaya pendidikan berkah  yang besarnya bervariasi antara SD sampai dengan setingkat SMA. Untuk SD sebesar Rp.180.000, SMP sebesar Rp 240.000 dan setingkat SMA sebesar Rp.300.000, Total bantuan yang diberikan sejumlah Rp. 750 Juta rupiah.
Supendi, S.Kom, Kepala Perwakilan Cabang BMH Surabaya mengatakan, “Program Senyum Anak Indonesia ini, sejatinya adalah sebuah program rutin BMH secara nasional yang dilaksanakan setiap bulan Mei sebagai wujud kepedulian kami terhadap pendidikan anak – anak di Indonesia. Program ini diwujudkan dengan tidak hanya berupa bantuan peralatan sekolah dan bea siswa pendidikan, tetapi juga program – program lain seperti bantuan pembangunan sarana – prasaran sekolah ringan, serta pendirian pesantren – pesantren yang bertujuan untuk mendidik anak – anak yang berkarakter dan hafal al Qur’an“
Ia berharap program ini bisa menjadi inspirasi bagi semua masyarakat untuk bersama – sama peduli terhadap penyelamatan pendidikan anak – anak, terutama mereka yang berasal dari kalangan miskin serta yatim piatu sekaligus ini sebagai wujud rasa terima kasih kami kepada para donator BMH, ujarnya.

Sodomi, Paedofilia, Mengundang Azab dan Petaka





Oleh: Ustaz Erick Yusuf*
Bismillahirrahmanirrahim, 
Naudzubillahi min dzalik
, kali ini bahasan kita mesti dimulai dengan doa tersebut. Ya betapa tidak, mengerikan sekali apa yang tengah terjadi di sekitar kita. 

Media menyebutkan masih banyak predator-predator semacam kasus Jakarta International School (JIS) & Emon Sukabumi yang berkeliaran di sekitar kita. Kemarin tertangkap pedagang asongan buku dan poster di Tuban, Jawa Timur terkait kasus kekerasan seksual pada sembilan anak. 

Perilaku tersebut menjadi ancaman bagi negeri ini, ia menyebar mungkin bisa lebih cepat dari virus jika tidak ditangani serius. Menurut pakar perilaku gay dapat menular kepada orang lain. Dengan kata lain, orang yang tadinya tidak gay dapat menjadi gay jika terus berinteraksi atau berada di dalam komunitas gay. 

Makin meningkatnya homoseksual tentu berkorelasi dengan makin banyaknya kasus sodomi terhadap anak-anak yang terungkap akhir-akhir ini, sebab korban pada saat kecil, ketika tumbuh dewasa bisa berkembang menjadi pelaku. 

Itulah yang disebut “abused abuser cycle” seperti terjadi pada Zainal, salah satu tersangka pelaku pedofilia di JIS, dan Emon predator pedofil dengan korban 110 anak dari Sukabumi. 

Mereka disodomi saat kecil dan ketika dewasa menjadi predator menyodomi anak kecil. Hal ini sangat berbahaya sebab dampaknya melebar hingga pada tersebarnya penyakit-penyakit seperti HIV AIDS juga.

Teringat kasus pada zaman Nabi Luth AS. Beliau diutus kepada kaum Sodom yang biasa melakukan liwath (aktivitas seksual antara laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan sesama perempuan). 

Nabi Luth diperintahkan untuk mendakwahi dan amar ma’ruf nahi munkar kepada mereka. Sebagaimana ayat: “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: ’Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?’ Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: ’Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.’ Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” (QS al-A’raf: 80-83).

Keburukan paling besar dan tiada taranya dari kaum Nabi Luth AS setelah kemusyrikan adalah sodomi. Nah bagaimana dengan kita? Jelas kemusyrikan telah nampak dimana-mana, apalagi ditambah dengan perilaku-perilaku yang menantang langit. 

Seakan-akan kita mampu menahan azab yang akan datang. Jangan heran jika karena kitalah yang mengundang azab dan menantang langit, walhasil musibah dimana-mana, penyakit tersebar kepelosok negeri, belum dampak ketakutan, kegelisahan dan sebagainya.

Naudzubillahi min dzalik. Sebagaimana ayat, “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS Hud: 82). 

Karenanya, yuk kita imbau semua berjamaah, media-media untuk menekan aktivitas atau mengurangi expose terhadap perilaku gay atau perilaku yang dapat menyimpang tersebut. karena yang tadinya main-main, atau hanya gaul biasa menjadi luar biasa dan di luar batas.

Buat program cegah dan tangkal untuk Sodom, pedofil dan sebagainya. Ayo, pemerintah dan yang diperintah, yang membaca dan yang menulis ayo semua kita dakwahkan, kita beri penyuluhan, atau apa pun yang bisa kita lakukan. Yang punya uang sumbangkan uangnya untuk program ini, yang punya ilmu, tenaga, apapun ayo sumbangkan, setidaknya kita punya doa, mari berdoa. 

Dengan spirit berjamaah dan tobat nasional, insya Allah, Allah akan ridha dengan menahan azab dan bahkan menggantinya dengan rahmat. Sebagaimana ayat, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS al-A’raf: 96).

Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik di sisi Allah adalah yang mengamalkannya.

*Pimpinan lembaga dakwah iHAQi, penulis buku 99 Celoteh Kang Erickyusuf.

Lima Alasan Mualaf Tertarik pada Islam




KAIRO -- Populasi Muslim di seluruh dunia meningkat pesat. Di Eropa, sejumlah lembaga survei mencatat ada kenaikan meski tidak lantas membuat populasi Muslim menjadi mayoritas.
Pertanyaan menarik yang muncul, apa yang menyebabkan masyarakat dunia mulai tertarik memeluk Islam. Pertanyaan ini yang kemudian menjadi bahan survei yang dilakukan Shannon Abulnasr, dalam makesurvey.net.

Dari data yang diperoleh, persentase tertinggi, yakni 30 persen (21 orang) menyatakan hal pertama yang membuat mereka tertarik tentang Islam adalah ketika mereka bertemu dan berbicara dengan Muslim. Dari pertemuan ini, sebanyak 24.3 persen (17 orang) mengaku semakin tertarik mengetahui ajaran Islam.

Dari salah seorang responden, kata Shannon, diketahui ia sempat bertemu dengan seorang Muslim yang diajaknya berhubungan suami-istri. Pria itu menolak dengan menyatakan dirinya seorang Muslim. Responden ini kemudian bertanya, apa dan mengapa seorang Muslim menolak berhubungan suami-istri, hal yang sangat biasa di dunia Barat.

Selanjutnya, sekitar 24 persen (10 orang) responden mengaku tertarik pada Islam ketika melihat seorang Muslim melaksanakan shalat, ibadah haji, dan masjid.
"Salah seorang responden bahkan terkejut ketika dirinya tengah minum kopi dengan seorang Muslim, ketika waktu azan tiba, ia meminta izin kepada responden untuk melaksanakan shalat," kata Shannon, seperti dilansir onislam.net, Ahad (11/4).

Alasan lain, sekitar 17.1 persen (12 orang) responden mengaku tertarik pada Islam ketika membaca Alquran dan literatur terntang Islam. Ini terjadi, ketika mereka mendengar dan membaca pemberitaan negatif tentang Islam dan Muslim. 

Alasan terakhir, yakni 27.1 persen (19 orang) responden menyatakan ajaran keesaan Tuhan merupakan solusi dan jawaban atas kebingungan dengan konsep Ketuhanan yang dipaparkan dalam ajaran agama terdahulu, "Monoteisme murni adalah konsep paling logis yang memudahkan kalangan non-Muslim memahami ajaran Islam," kata dia.

Secara umum, kata Shannon, apa yang dipaparkan para responden menunjukkan kalangan non-Muslim sangat memperhatikan perilaku Muslim. Ini merupakan dakwah secara tidak langsung yang menarik perhatian mereka. "Saya kira ketika Allah memberikan hidayah, itu dimulai dengan bagaimana seorang Muslim berperilaku. Jadi, seorang yang akan menjadi Muslim karena perilaku dan tindakan umat Islam sendiri," kata dia.

5.16.2014

Wabah Takfirisme: Ancaman Nyata Bagi Semua



Dampak buruk arus deras fenomena takfirisme yang dikhawatirkan oleh banyak pihak, terus menyebar di berbagai penjuru dunia. Tak terkecuali di Indonesia. 

Dalam beberapa waktu terakhir, tercatat tak lagi hanya seminar-seminar bernuansa provokasi dan kebencian yang mereka gelar, bahkan secara vulgar ancaman pembunuhan terhadap kelompok yang berbeda pandangan dengan golongan yang suka mengkafirkan ini pun dipamerkan dan dideklarasikan di depan umum tanpa ada tindakan tegas dari pemerintah.

Salah satunya adalah ujaran kebencian yang dilakukan oleh Abu Jibril dalam Deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah di Bandung belum lama ini.

Menyikapi hal ini, makin gencar pula upaya kalangan pengusung toleransi melakukan perlawanan dengan menyebarkan pemikiran-pemikiran moderatnya. Salah satunya adalah apa yang digagas Universitas Paramadina berupa seminar bertajuk ‘Extremism and Social Peace” bertempat di Paramadina Graduate School, Sudirman Center Bussines School (SCBD), Jakarta, Senin (12/5) kemarin.

Dalam seminar yang dihadiri para dosen dari berbagai universitas ini, Wakil Menteri Agama, Dr. Nazaruddin Umar yang membuka seminar menegaskan bahwa Islam sejatinya adalah agama cinta. Bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih. Terbukti hadis-hadis Nabi sendiri pun didominasi oleh pengajaran tentang cinta kasih terhadap sesama makhluk-Nya. 

Nazaruddin menyayangkan bahwa hadis yang banyak diketahui dan disebarkan di tengah umat justru hadis yang meriwayatkan tentang sikap keras saja. Sementara riwayat yang mengajarkan cinta dan kasih-sayang tidak begitu dikenal luas.

Jangan Anggap Remeh Takfirisme

Salah satu pembicara dari International Institute of Advanced Islamic Studies (IAIS) Malaysia, Prof. Karim Douglas Crow, dalam seminar kali ini menyebutkan bahwa paham ekstrimisme itu muncul dari pemahaman keberagamaan yang dangkal dan sempit.

Hal senada diungkapkan oleh Haidar Bagir. Menurutnya di zaman modern ini, ketika teknologi informasi berkembang pesat, masyarakat yang pemahaman keberagamaannya dangkal lalu mereka kerap mendapat benturan informasi yang menghantam keyakinannya, biasanya akan cenderung terpengaruh pandangan takfirisme.

“Kalau orang ilmunya luas, ia justru akan memperkuat keyakinannya dengan belajar sebanyak-banyaknya. Tapi kalau orang yang digedor-gedor keyakinannya ilmunya rendah, tak mustahil ia akan memilih sesuatu yang mudah, yang sempit, yang mudah dipegang. Di situlah ia terpengaruh paham takfiri,” papar Haidar Bagir.

Haidar juga mengingatkan agar bangsa Indonesia jangan sampai meremehkan fenomena takfirisme ini. Tak hanya bisa menimbulkan kekacauan sosial, jika sudah berafiliasi dengan kekuatan politik, bisa terjadi perang saudara seperti yang terjadi di Suriah. 

“Coba lihat saja sekarang, gak usah jauh-jauh. Ketika ada Jokowi dan Prabowo. Di Bandung itu jelas mereka bilang kalau Prabowo mau gilas Syiah, mereka siap dukung Prabowo,” tekan Haidar Bagir.

Bagaimana Menghadapi Takfirisme?

Dalam menghadapi fenomena takfirisme ini, salah seorang pembicara lain, Dr. Husein Heriyanto menyebutkan, ada dua langkah yang mesti ditempuh; langkah jangka pendek, dan langkah jangka panjang. Jangka pendek adalah, pemerintah mesti menindak tegas pelaku kekerasan dari kelompok takfiri sehingga ada efek jera, dan dalam jangka panjang membentuk cara berpikir masyarakat menjadi lebih luas, lebih bijak, dan lebih toleran.

Sementara menurut A. Rifai Hasan, Ph. D, orang Islam mesti menyepakati definisi minimal seseorang bisa disebut sebagai Muslim. Yaitu menghukumi seseorang dari penampakan lahiriahnya. Di antaranya, selama ia mengucapkan syahadat dan shalat menghadap kiblat (Kakbah), maka dia adalah Muslim. 

Hal ini menurutnya sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw dalam memperlakukan Abdullah bin Ubay yang beliau ketahui kemunafikannya, tetapi tetap dihukumi sebagai Muslim karena Nabi menghukuminya dari apa yang nampak secara lahiriahnya saja. Karena Islam mengakui, bahwa persoalan batiniah merupakan urusan pribadi yang bersangkutan sendiri dengan Tuhannya.

Mengapa Islam Tumbuh Di Madinah? Sebuah Jawaban Awal

Islam adalah agama pemersatu, agama yang telah mempersatukan dan membangun tali persaudaraan di antara beragam suku Arab yang terus menerus bertikai kala itu. Hijrah Nabi Muhammad ke Kota Yatsrib yang kini disebut dengan Madinah itu secara jelas memanifestasikan hakikat Islam sebagai agama pemersatu, rekonsiliator, dan pengayom toleransi dan pluralisme. Jika di Mekah yang monokultural dan monolitik, Islam tertolak dan Baginda Nabi Muhammad terusir, maka itu menunjukkan sifat Islam yang tidak sesuai dengan lingkungan yang seragam dan tidak menerima perbedaan. Sebaliknya, di Madinah yang multikultural, Islam justru menemukan habitat yang ideal. Di Madinah, Islam tumbuh sehat, kuat dan cepat, dalam milieu yang kondusif. Kenyataan ini memperkuat keyakinan bahwa Islam adalah agama multikultural sejak dalam buaiannya, sejak dalam periode paling awalnya. Dan karena itulah Islam tidak bisa tidak mesti mencari lingkungan dan wilayah multikultural lain agar dapat terus mekar, memperlihatkan keindahannya dan semerbak wanginya.
Dalam bukunya tentang kehidupan Nabi, Muhammad Rasulullah, Syeikh Abul-Hasan Ali an-Nadwi telah mempersembahkan satu bab lengkap mengenai gambaran rinci ihwal struktur sosial Madinah ketika Nabi dan para sahabatnya  menetap di sana bersama saudara mereka yang merupakan penghuni tetap kota tersebut. Dia menunjukkan Madinah adalah kota dengan beragam keyakinan, budaya, etnik, bahasa, suku dan kelompok sosial yang memberikan kota itu suatu lanskap plural yang kaya dan penuh warna. Hal ini jelas berbeda dengan situasi Mekah yang bersifat monolitik. Fakta ini menunjukkan bahwa Islam justru dapat tumbuh besar di lingkungan yang tidak monolitik, suatu lingkungan yang terbuka dan menerima perbedaan pandangan dan keyakinan.
Di dalam lanskap multikultural yang seperti inilah Islam dapat hadir dalam kekuatan penuh. Sebaliknya, di Mekah, Islam menjadi agama yang tersisihkan karena masyarakat Mekah pada umumnya tertutup dan statis. Masyarakat Mekah tidak mengenal perbedaan dan keberagaman, bahkan menolak keras segala rupa perbedaan yang coba ditawarkan. Fakta ini memperkuat  keyakinan yang menyatakan bahwa Islam adalah agama terbuka, yang akan tumbuh jauh lebih pesat di milieu yang dinamis dan heterogen. Praduga bahwa Islam adalah agama monolitik yang tidak mendukung keberagaman pandangan dan penafsiran adalah miskonsepsi yang nyata. Fakta masuknya Islam ke berbagai wilayah dengan pedang lebih menunjukkan bahwa wilayah-wilayah itu bersifat monolitik dan totaliter ketimbang menunjukkan bahwa Islam adalah “agama haus darah” yang mendorong pengikutnya pada fatantisme dan kekerasan.
Mungkinkah Islam yang sejak semula memiliki memiliki karakteristik seperti itu sekarang malah menjadi sumber konflik sektarian bagi para pemeluknya? Jelas tidak mungkin! Kita perlu mencari akar-akar perpecahan dan konflik tersebut dari luar ajaran Islam itu sendiri. Berbagai pengamatan sederhana sebenarnya dapat menguraikan dilema tersebut. Salah satunya ialah dari kebodohan sebagian penganut Islam mengenai hakikat ajaran Ilahi ini. Kelompok-kelompok yang mencoba memurnikan Islam dengan cara mengkafirkan atau memusyrikan praktik-praktik masyarakat sebenarnya muncul dari kebodohan akan ajaran Islam yang hakiki. Demikian pula dengan anggapan keliru di kalangan sebagian penganut Islam yang mencoba menyamakan fanatisme dengan ketaatan dan keberagamaan yang ketat. Keberagamaan ketat yang bersifat sakral itu tidaklah mungkin berakibat pada fanatisme, melainkan justru akan membawa pada penghayatan ruhani dan tumbuhnya nilai toleransi, kasih sayang dan kemanusiaan dalam diri seorang Muslim.
Pada sisi lain, ada upaya-upaya dari dalam kalangan Islam untuk membebaskan umat dari jeratan fanatisme melalui cara-cara yang ekstrem pula. Mereka muncul dalam baju liberalisme Barat yang kosong dari nilai-nilai Islam dan spiritual untuk kemudian menawarkan sintesis antara Islam dan Barat dalam bentuk yang tidak autentik. Sintesis seperti ini tidak akan melepaskan umat dari belenggu fanatisme, melainkan justru akan membangkitkan letupan fanatisme dan gerakan puritanisme yang lebih anarkis. Oleh sebab itu, cara yang benar untuk membebaskan umat dari jeratan fanatisme ialah dengan kembali kepada ajaran-ajaran Islam yang sejati, melalui metode pembelajaran dan pengajaran Islam yang rasional, ilmiah dan berpijak pada semangat toleransi dan penerimaan pada keberagaman penafsiran.
Di dalam Islam memang ada dua Mazhab besar. Dua Mazhab Islam itu ialah Ahlusunah dan Syiah. Di dalam Mazhab Syiah ada aliran Itsna ‘Asyariah, Zaidiyah dan Ismailiah. Di dalam Mazhab Ahlusunah, ada aliran Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hanbali. Namun demikian, perbedaan antara kedua mazhab besar itu pada umumnya berkisar pada masalah-masalah politik, fiqih dan historis. Titik-titik persamaan antara keduanya, misalnya, jauh lebih banyak ketimbang titik-titik persamaan antara dua sekte besar dalam Kristen, yakni Katolik dan Protestan. Bahkan, titik-titik perbedaan yang terdapat antara Mazhab Ahlusunah dan Syiah tidak ada yang bersifat mendasar.
Sekadar contoh, Ahlusunah dan Syiah sama-sama mengakui satu bentuk syahadat, satu al-Qur’an, satu Nabi dan satu kiblat. Ahlusunah dan Syiah sama-sama mengakui kewajiban shalat, puasa, zakat, haji, dan amar makruf nahi mungkar. Shalat yang wajib juga sama: subuh, dzuhur, ashar, magrib dan isya. Rakaat pada masing-masing shalat tersebut juga sama: 2 untuk subuh, 4 untuk dzuhur dan ashar, 3 untuk magrib dan 4 untuk isya. Dengan demikian, perbedaan cabang yang ada di antara Mazhab Ahlusunah dan Syiah, apapun bentuknya, tidak bisa menggugurkan semua persamaan yang menjadikan mereka semua satu bagian dari umat Islam.
Lebih jauh, perbedaan di antara Mazhab Islam sesungguhnya lebih mencerminkan apresiasi terhadap kekayaan sumber-sumber khazanah Islam, ketimbang mencerminkan perbedaan keyakinan. Apresiasi itulah yang secara istilah disebut dengan ijtihad. Dalam sebuah Hadis, Nabi Besar Muhammad pernah bersabda: “Ikhtilafu ummati rahmah” (Perbedaan di dalam umatku adalah rahmat). Jadi, di sini Nabi menyebutkan bahwa perbedaan penafsiran dan pandangan yang ada di dalam umat adalah manifestasi dari berlimbahnya karunia Allah.
Akhir-akhir ini, terutama dengan semakin memanasnya situasi di Timur Tengah, perbedaan antara Mazhab Islam itu kembali menimbulkan gesekan yang berbahaya. Pertikaian yang sebelumnya bersifat politik pun bergulir menjadi potensi konflik sektarian di antara berbagai penganut mazhab yang berbeda dalam Islam. Oleh sebab itu, muncul tuntutan besar untuk kembali mempererat tali persaudaraan di tengah umat dan membangun persatuan Islam (wahdah Islamiyyah), tanpa melihat pada perbedaan2 pandangan yang ada.
Akan tetapi, apakah maksud persatuan Islam atau wahdah Islamiyyah itu? Apakah ia berarti harus ada satu Mazhab yang diikuti dan semua pengikut Mazhab lain bergabung dengannya? Ataukah harus ada satu Mazhab baru yang mempersatukan semua Mazhab yang ada dan meleburnya menjadi satu Mazhab Islam yang tunggal? Ataukah persatuan Islam itu sama sekali tidak berhubungan dengan penyatuan atau penggabungan pandangan dan gagasan dalam bidang fiqih, melainkan kesatuan dan persatuan pengikut semua Mazhab Islam yang semuanya sebenarnya adalah pengikut Islam yang sama dalam membangun cita-cita bersama dan melawan kekuatan musuh yang sama?
Tentu saja, tuntutan dan ajakan kepada persatuan Islam yang sekarang menggema ini tidak lain ialah kesatuan dan persatuan di antara pengikut Mazhab-mazhab Islam sebagai pengikut Islam yang sama dalam rangka membangun kekuatan bersama dan melawan musuh yang sama. Persatuan Islam bukan harus berarti munculnya satu Mazhab Islam baru yang meleburkan semua Mazhab yang ada atau mencegah terjadinya perbedaan pandangan dan memusuhi sarjana atau ulama yang memunculkan penafsiran berbeda tentang Islam. Persatuan Islam yang diserukan oleh banyak ulama Islam, baik dari kalangan Ahlusunah ataupun Syiah, jelas tidak demikian. Karena, persatuan yang demikian justru akan mematikan dan membungkam kreativitas intelektual dan dinamika ilmiah yang menjadi ciri-khas peradaban Islam sejak masa awal sejarah Islam.
Dengan demikian, maksud persatuan Islam ialah penyatuan langkah dan aksi pengikut seluruh Mazhab Islam sebagai umat Islam dalam rangka membangun kekuatan bersama dan melawan kekuatan musuh yang sama. Bila persatuan dalam pengertian ini bisa diwujudkan, maka dunia akan menyaksikan kebangkitan 1,5 milyar penduduk untuk menggulirkan visi Islam yang toleran, pluralis, rekonsiliatif dan terbuka. Mereka akan bergerak menggulirkan platform Nabi Muhammad saat membangun Madinah yang pluralis dalam skala global. Namun sebaliknya, bila 1,5 milyar umat Islam terus-menerus dirundung perpecahan apalagi yang sampai berujung pada pertumpahan darah, maka malapetaka besar akan menimpa masyarakat dunia secara umum.
Oleh sebab itu, upaya-upaya keji dan tidak manusiawi yang mencoba memainkan taktik adu domba antar-pengikut Mazhab Islam harus dicegah. Akibat perpecahan umat Islam adalah bencana kemanusiaan yang bersifat global. Bencana ini ada awalnya, tapi tidak akan ada akhirnya. Apa yang coba dihembuskan dari Irak itu bisa menjadi awal kerusakan yang tidak ada akhirnya, lantaran 1,5 milyar penduduk dunia yang beragama Islam akan masuk dalam lorong absurd yang tidak berujung ini.
Salah satu metode untuk mencegah skenario konflik yang mengerikan itu ialah dengan mengembalikan konflik politik yang terjadi di Timur Tengah pada koridor politik, dan secepat mungkin menghalau spillover-nya kepada wilayah kemazhaban Islam. Semua pihak yang berselisih harus disadarkan bahwa konflik politik tidak boleh sampai menjadi konflik sektarian, sehingga solusinya akan semakin rumit dan jelas. Umat Islam di Irak atau di manapun juga harus dihimbau kembali kepada persatuan, dan memperlebar jiwa toleransi dan rekonsiliasi.
Dalam konteks ini, Bangsa Indonesia jangan sampai terlibat dalam tarik-menarik konflik sektarian yang kini bertiup kencang di Timur Tengah. Sebaliknya, Bangsa Indonesia harus bisa menjadi teladan dalam menciptakan toleransi dan saling pengertian. Sebagai bangsa yang mayoritas memeluk agama Islam, kita bisa menjadi pionir untuk memanifestasikan keberagamaan yang toleran, moderat dan terbuka. Kaum Muslim Indonesia tdk boleh terjebak dalam ekstrem fundamentalisme atapun ekstrem liberalisme. Keduanya bukanlah pola menjalankan Islam yang autentik.

Surat Terbuka untuk Syiah Indonesia

Masing-masing kita boleh menjawab. Tapi apapun itu, masih banyak yang perlu kita geledah: Kenapa kita kerap seperti lebih berapi-api dan bernafsu dalam menyampaikan apa yang kita persepsi sebagai kebenaran? Mengapa kita, banyak dari kita orang-orang Syiah di Indonesia, kerap terperosok dalam prasangka, ketidakadilan, sikap saling caci?
HARI-HARI INI gelombang fitnah mengurung kalian. Pagi saat sarapan Anda yang dicap kafir. Besok giliran istri dan anak Anda yang sesak nafas dimaki pelacur, penyembah kubur dan maniak seks. Hari ini musuh mengayunkan parang stigmasi ke leher kawan di samping, besok giliran sobat di kampung yang divonis 'sesat' dan 'halal darahnya'.

Hei orang-orang Syiah Indonesia! Kemana kalian kan melangkah? Siapa pandu dan mana suluh kalian?

Kawan, surat ini bukan sosis pengusir lapar di tengah malam. Ini sekadar untuk mengingatkan bahwa mungkin cara terbaik bagi kita semua adalah dengan menganggap semua panah fitnah yang datang, baik dulu, kini dan setelahnya, sebagai risiko kecil. Sesuatu yang tak begitu berarti di hadapan gunungan cinta dan kerinduan besar kita semua pada pertemuan dengan Nabi Agung Muhammad SAW dan Ahlul Bait yang suci.

O, tentu saja, kita bakal melawan semua itu Bung -- dan itu pasti. Tapi mungkin kita perlu menasehati diri bahwa keburukan tak bisa dibunuh dengan tembakan salvo perilaku yang sama buruknya. Kita tak boleh lagi seperti dulu-dulu, saat banyak dari kita bereaksi sekadar untuk beraksi, menanggapi issu dan fitnah sekadar untuk dianggap ‘eksis’. Kita, orang-orang Syiah Indonesia, bukan mereka yang tersesat dan meraba-raba di pekatnya malam. Kita bukan mereka yang kebingungan karena tak tahu kode pos kebenaran, yang gampang dibaca kekacauan pola pikir, tutur kata dan tingkah lakunya.

Tidak. Tidak. Ini hari, ini menit, ini detik ... kita semua perlu berubah dan mempersiapkan diri. Kita harus membiasakan diri untuk lebih berpijak pada kebenaran dan keadilan -- dan bersedia membayar tunai segala konsekuensinya. Kebenaran, kawan-kawanku orang-orang Syiah Indonesia, adalah tangga menuju ketenangan dan keamanan. Dan dua yang terakhir adalah buah dari ranumnya keimanan dalam diri. Nah, tidakkah pas bagi untuk mulai menjawab aneka fitnah dan tuduhan dengan berpengang bulat-bulat pada buhulan kuat ilmu dan akal. Seperti cahaya, ilmu terang dan menerangi. Sementara akal adalah jalan lapang menuju kota penuh Cahaya.

Dusta? Ah, usah terlampau dicemaskan. Dusta tetaplah dusta yang gelap nan singkat, kawan. Musuh-musuh kita bisa mengelabui dan mengapuri otak banyak orang untuk waktu yang lama -- tapi jelas tidak akan pernah bisa selama-selamanya. Di satu titik, kebenaran dan, tentu saja, kematian pasti akan mencegat dan membanting mereka. Sebab itu tak sedap lagi rasanya bila masih ada cerita dusta musuh-musuh kemudian menaikkan tensi kegusaran orang-orang Syiah Indonesia.

Nah, sekarang soal lain: adil. Ini rasa-rasanya penting juga untuk kita semai secara masif. Kita, masing-masing kita, perlu adil termasuk ke mereka yang selama ini menetak-netakkan pedang dan menakut-nakuti kita dengan ancaman penghalalan darah. Agama mengajarkan bahwa adil adalah sempurna dan baik. Dan ia bakal tetap begitu tak peduli sedikitnya orang yang melakukannya atau banyaknya mulut yang menertawakan. Pun tak peduli kecil-besarnya prospek kita mendapatkan balasan keadilan yang serupa. Keadilan bagi kita adalah yang terbaik sebab ia yang paling benar dilakukan dan paling abadi dalam hukum alam.

Sampai di sini, mungkin kita perlu menderingkan kembali ingatan pada jejak langkah Nabi Suci dan Ahlul Bait dalam menghadapi segala rupa cemoohan, kecaman, blokade, propaganda busuk, penistaan, labelisasi, boikot, perang urat saraf, perang fisik, pembantaian, dan seterusnya. Cobaan mereka tentu saja jauh lebih besar dan tak bisa dibandingkan, dengan sedikit yang kita tanggung di Indonesia sekarang ini.

Namun apa kiranya yang memalingkan kita dari fakta bahwa di tengah semua ujian itu para manusia suci tak pernah bergeser perhatiannya dari Allah Yang Tinggi dan Hari Akhir yang pasti datangnya? Kenapa kita bisa pangling bahwa mereka tidak pernah balas memaki dan mencaci -- sekalipun mereka sebenarnya 'layak' dan pasti bakal dimaklumi Allah? Lupakah kita kalau Nabi Suci, yang merupakan penerima wahyu dan pembawa Islam yang paling absah dan paling berhak untuk mengklaim kebenaran, tak pernah terlibat saling cakar klaim kebenaran atau menanggapi pemaki dan pendusta dengan makian dan dusta setimpal?

Sejarah merekam orang-orang Suci kita tetap santun menyampaikan dan menjelaskan kebenaran yang sesungguhnya menjadi tugas asli dan wewenang mutlak mereka. Tak ada benci. Tak ada ketergesa-gesaan dan kepanitan. Atau kecemasan terbabit panah musibah dan kematian.

Kita, semua orang-orang Syiah Indonesia, perlu melangkah di jalur para Nabi dan Ahlul Bait.

Kita, semua orang-orang Syiah Indonesia, perlu mengendepankan keindahan akhlak, sopan santun yang luhung dan sikap ilmiah yang terukur -- meski seolah semua itu laiknya kesia-siaan di hadapan musuh yang bodoh, dungu dan ahmaq.

Toh, bukankah kita-kita ini hanya penyambung yang tak asli bagi tugas dan wewenang penyampaian kebenaran agama Nabi dan Ahlul Bait? Bukankah kita hanya ‘ngalap’ berkah dan keridhaan serta berupaya berbakti dengan mendukung tugas mereka? Bukankah tugas utama kita hanyalah mengikuti ajaran Nabi dan Ahlul Bait?

Masing-masing kita boleh menjawab. Tapi apapun itu, masih banyak yang perlu kita geledah: Kenapa kita kerap seperti lebih berapi-api dan bernafsu dalam menyampaikan apa yang kita persepsi sebagai kebenaran? Mengapa kita, banyak dari kita orang-orang Syiah di Indonesia, kerap terperosok dalam prasangka, ketidakadilan, sikap saling caci? Mengapa kita kerap terpancing emosi dan seperti menikmati melembingkan kata-kata kasar pada musuh yang memang mengharapkan kemarahan?

Kawanku ... Jangan panas, jangan galau, jangan seperti gardu listrik jika musuh mengulang-ulang tuduhan 'Syiah penyembah Ali', Syiah begini dan Syiah begitu. Jangan juga seperti kekurangan oksigen, menjadi gugup, cemas, dan nyaris putus asa, hanya karena musuh banyak dalam jumlah dan seperti tak pernah kehabisan kreatifitas dalam menyerang dan memanggang kita di palagan opini.

Tenang. Tenang. Tenang. Andai bisa, atur denyut jantung Anda di bawah suhu es di Kutub Utara. Lagi pula, apa faedah marah dan meradang pada musuh yang gelap mata dan hati?

Kawan, tak ada yang baru di kolong langit ini. Tak ada yang baru dari permusuhan segelintir orang atas mazhab Syiah dan penganutnya di Indonesia. Yang mengangkat lembing permusuhan pada kita saat ini dulunya juga sudah pernah terjadi. Hanya beda aktor dan latar. Lebihnya itu sama. Plek-plek. Lupakah kita bahwa musuh-musuh kemanusian bahkan pernah sampai memfitnah Allah Yang Tinggi, menyebut “tangan Allah telah terbelenggu”, bahwa Allah papa, tak sanggup berbuat apa-apa? Lupakah kita pada cerita Al Quran tentang mereka yang pernah lancang menggelari Rasul sebagai 'pendusta', 'sok suci', 'sok benar', 'bodoh', 'tukang sihir yang kerasukan setan'?

Ibarat tak ada habisnya. Tapi yang penting adalah mematri dalam diri bahwa semua fitnah dan celaan itu -- dari zaman Nabi hingga yang menghujam kita di Indonesia hari-hari ini -- tak akan bisa mengubah kenyataan dan kebenaran. Begitu, bukan? Tuduhan hanya berguna apabila yang dituduh terbukti sesuai (atau menyesuaikan diri) dengan tuduhan. Sebab itulah, jika kita yakin bahwa semua gelombang tuduhan yang datang menerpa hanya dusta belaka, sudah waktunya kita menampar semuanya dengan kebenaran yang mendiamkan.

Kawan-kawan sekalian ... Jangan pernah ragu menampilkan penjelasan dan pembuktian. Siapapun boleh seenaknya mengkhayalkan sesuatu yang salah, merajut kebohongan dan melontarkan tuduhan dusta. Tapi tak sekali pun mereka bisa memahami semua dusta dan kebohongan itu. Dunia ini, Bung, terikat hukum besi: hanya kebenaran yang bisa dipahami, dinalar dan dijelaskan secara logis. Dan kebenaran tak pernah pelit memberikan pembuktian. Pun dengan kenyataan tak pernah lelah memunculkan penampakan.

Aih, kurang apa pelajaran dari Baginda Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib? Kurang apa dia menasihati kita dari beribu-ribu tahun silam tentang prinsip jitu menghadapi gelombang fitnah. Kata Imam Ali: hadapilah fitnah dengan bersikap layaknya anak onta yang punggungnya tak bisa ditunggangi dan susunya tak bisa diperah. Agaknya beliau ingin membisikkan bahwa ada dua cara penyulut fitnah menggantang keuntungan: menunggangi atau memerah. Imam sepertinya ingin kita pintar-pintar membaca situasi, membedakan mana golongan yang menunggangi dan mana yang memerah fitnah. Penunggang, seperti kita semua tahu, biasanya ingin menternakkan fitnah untuk waktu yang lama, sementara pemerah ingin semuanya selesai cepat. Penunggang mengincar faedah di masa datang, sementara pemerah hanya melihat manfaat jangka pendek karena khawatir susu keburu basi. So, jangan biarkan mereka yang merasa berkuasa leluasa menunggangi punggung orang-orang Syiah. Jangan pula membiarkan mereka yang merasa terancam oleh pesatnya kemajuan Syiah di Indonesia, bisa memerah susu dari keluguan kita-kita semua.

Kawan-kawan dari Sabang sampai Merauke … Hanya kebenaran dan keadilan yang bisa menjamin kemenangan sejati. Kebenaran yang tidak saja berlaku di sisa umur yang singkat ini, tapi berlanjut terus sampai generasi setelahnya -- bahkan di alam keabadian. Jika kalian bingung dan nyaris merasa kehabisan oksigen saat mencoba memahami kelakuan orang-orang yang merasa benar sendiri, maka ingatlah bahwa semua itu sudah pernah terjadi dan bakal terjadi lagi sampai Allah memutuskan untuk menghakimi kita semua, kelak di alam keabadian. Kita pengikut setia Nabi dan Ahlul Bait. Sekarang lah saatnya membuktikan semua klaim dengan langkah nyata. Mari jadi pengikut yang memang layak mengibarkan panji-panji kehormatan dan keagungan nama Nabi dan Ahlul Bait. Mari jadi pertama dan kembang kebanggaan mereka.

Kawan-kawan, ingat dan tempel yang berikut di ruang tengah masing-masing rumah kita: Kebenaran tetap benar meski tak kita bela, dan kebatilan akan tetap batil meski pembelanya sa'tapruk. Dusta tetaplah dusta, yang mempercayainya tetaplah bodoh meski terlihat pandai. Kenyataan tetaplah kenyataan meski terus ditutup-tutupi, dan kepalsuan tetaplah kepalsuan meski ditampak-tampakkan. Kemuliaan tetaplah kemuliaan meski dihinakan dan dinistakan, dan kehinaan tetaplah kehinaan meski diagung-agungkan dan dijunjung-junjung. Semua itu adalah gen kebenaran yang tak bisa berubah meski sekalian makhluk bersepakat mengoperasinya. Allah Yang Agung tetaplah Pencipta meski semua manusia bermaksiat pada-Nya; Nabi Muhammad tetap makhluk paling mulia dan agung meski banyak yang meremehkannya; Ahlul Bait tetaplah bintang-bintang pemberi petunjuk meski banyak yang berupaya mengubur mereka.

Mari kawan, mari kita semua bercermin lalu bertanya: Sudahkah kita mengenal, menjaga dan memegang kebenaran agar dapat berpikir benar, bersikap benar dan berlaku benar? Sudahkah kita memeluk keadilan sekuat tenaga agar kita selalu mulia dan jaya bersamanya? Sudahkah kita memiliki keberanian menahan nafsu amarah dan bersit kebencian dalam rangka memegang kebenaran dan menjaga keadilan? Maukah kita mengambil risiko apapun dalam rangka merengkuh kebenaran, memeluk keadilan, dan menghiasi diri dengan kasih sayang?

Kawan-kawanku orang-orang Syiah dari Sabang sampai Marauke. Jika lepas perenungan dan kalian merasa sudah bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan benar dan jujur maka ... lemparkan semua kebinungan dan kecemasan itu. Yakinkah tidak ada lagi bulu kerisauan yang bisa menggetarnya nadi Anda semua.

Kawan . . . ingat-ingat kata pepatah: dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak. Belajar membawa diri beradaptasi yang luwes. Sebab begitulah sikap orang berakal, meski orang ahmaq yang suka bertengkar ingin kita bersikap sebaliknya dan memperlihatkan perbedaan. Mencoba mencari persamaan meski terdapat perbedaan, karena persamaan adalah modal untuk bermasyarakat, dan perbedaan adalah sikap manusiawi diruang privat. Jadilah seperti para pendekar sakti mandraguna yang tak lagi butuh panggung untuk mempertontonkan jurus-jurus maut.

Kawan-kawan ... tapi semua itu ada syaratnya: jangan pernah mundur dari gelanggang saat tiba waktunya untuk menjaga kemuliaan dan kehormatan Allah, Islam, Rasul dan Ahlul Bait. Jikalau waktunya sampai, katupkan geraham kalian dan perlihatkan kegarangan di medan tempur. Kemenangan, seperti halnya kemenangan dulu bersama para Nabi dan AhlulBait, bakal bersama kita juga nantinya.

Kawan, patut kita ingat kembali semua bahwa kita adalah bagian dari bangsa besar bernama Indonesia. Ini negara kita, kampung halaman, tanah tumpah darah. Di sini kita hidup, disini kita bakalk berkalang tanah.

Kawan, sejarah bangsa ini selalu penuh dengan keramahan. Bangsa ini mulia karena memperlihatkan penerimaan yang tulus pada kebenaran Islam, meski para pemimpin Islam kini telah mengecewakan dan menyia-nyiakan mereka.

Kawan, sekaranglah saat yang tepat: di tengah fitnah yang berkecamuk, orang-orang Syiah Indonesia perlu bangkit melayani rakyat, menjadi terdepan dalam membela hak-hak masyarakat, menyegarkan cita-cita kemerdekaan, menghidupkan ikatan kebangsaan, dan bersama-sama mendorong kemajuan bangsa. Jangan pernah minder, ragu, bimbang atau kikuk menjadi minoritas di negara ini. Jangan pernah salah tingkah dengan mazhab saat yang kalian lakukan dinanti rakyat dan umat.

Seperti Imam Ali yang menanam 10.000 pohon korma untuk mereka yang bakal hidup kemudian, jangan pula pernah berharap imbalan dari mereka yang tak mau dan tak mampu membalas. Hanya pada Allah, dan hanya di Hari Akhir imbalan dan ganjaran jadi penuh.

Kawan, ingatlah bahwa fitnah atau cacian apapun di dunia itu hanya sementara. So, jangan pernah takut. Jangan membalasnya dengan cara setimpal sehingga menyebabkan Anda harus menanggung akibatnya kelak di Akhirat.

Terakhir, keluarkan pedang kritik untuk mendiamkan musuh-musuh yang melempar aneka fitnah di tengah kepanikan yang mereka karang-krang sendiri. Tapi jangan pernah sampai terjatuh pada sinisisme, sarkasme atau kata-kata pedas yang tak berguna. Orang yang melontarkan tuduhan palsu dan berbohong bakal gembira bila kita menjawab dengan kekasaran mulut. Obatnya hanya satu dan ini bakal mujarab: ungkapan kebenaran, kenyataan dan penjelasan yang terang benderang. Jika Anda tak mampu menjadi seperti matador papan atas, jangan menyambut tandukan banteng yang mengamuk. Kobaran api tak bisa dipadamkan dengan menghantam-hantamkan tangan ke tumpukan bara apalagi dengan menyiraminya dengan bensin. Begitulah kawan-kawanku semua, orang-orang Syiah Indonesia. Camkanlah bahwa hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan dan kemanusiaan terlalu berharga untuk dibuang percuma. Wassalam. *** (Islam Times/MK)


Fatwa Sesat

Sesat adalah kata yang berlawanan dengan “benar”. Dalam khazanah tasawuf, al-Haq, yang diartikan sebagai “Yang Maha Benar” dilawankan dengan al-Khalq. Ia adalah kata yang dipahami sebagai entitas transenden yang merupakan wujud tunggal Tuhan. Karenanya, al-haq hanya bisa disandang oleh Allah SWT.
Etimologi dan Terminologi “Sesat”
Menganggap sesat itu bisa dilakukan oleh siapa saja, baik ulama maupun yang mengaku ulama. Namun persoalannya bukan itu. Persoalannya adalah kredibilitas dan integritas moral pihak yang menyesatkan. Hal ini sangat penting demi memastikan publik tidak malah menjadi korban pembodohan dan manipulasi atribut agama.

Frase “fatwa” dan “sesat”, yang menjadi dasar penetapan dakwaan “penodaan agama” mengandung banyak kekaburan dan kerumitan yang mengundang sejumlah tanda tanya dan menuntut kajian mendalam.

Dalam bahasa Indonesia, sesat berarti tidak melalui jalan yang benar; salah jalan; berbuat yg tidak senonoh; menyimpang dari kebenaran, melakukan perbuatan yang tidak patut; berbuat yg tidak senonoh. Kesasar adalah kata sinonim “sesat”.

Secara etimologis, kesesatan dalam bahasa Arab disebut dhalalah. Akar katanya ialah : ضل – يضل –ضلالا – ضلالة – (dhalla, yadhillu, dhlalan dan dhalalatan). Dholalah secara bahasa artinya kesesatan/tersesat. Lawan katanya adalah: هداية (hidaayatan) yang berarti dapat petunjuk. Secara istilah (terminologi),

Dhalalah/kesesatan secara terminologis adalah penyimpangan dari petunjuk atau jalan yang lurus atau jalan yang benar (Allah). Pengertian seperti ini dapat kita pahami melalui firman Allah “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Q.S. Al-An’am (6) : 116).

Dalam Al-Qur’an, kata dhalalah dengan berbagai pecahannya terdapat sebanyak 151 ayat. Pengertian dhalalah dalam Al-Qur’an tidak kurang dari sembilan makna seperti; tergelincir, kerugian, kesengsaraan, kerusakan, kesalahan, celaka, lupa, kebodohan dan ksesatan sebagai lawan kata hidayah (Petunjuk).

Dimensi-dimensi “Sesat”
Kesesatan dan sesat adalah frase keagamaan yang memiliki banyak dimensi dan aspek. Dengan kata lain, kata “sesat” bisa ditafsirkan secara beragam mengikuti konteks yang meliputinya. 

Ada beberapa dimensi sesat dan kesesatan sebagai berikut:

1. Dhalalah I’tiqadiyah (Kesesatan dalam keyakinan), seperti firman Allah; “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (Q.S. An-Nisa’ (4): 116).

2. Dhalalah Thoriqiyah (Kesesatan dalam akhlak) seperti firman Allah; “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat,dalam keadaan sesat yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab (33): 36).

3. Dhalalah ‘Amaliyah (Kesesatan dalam perbuatan), seperti firman Allah; “Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya”. Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (Q.S. An-Nisa’ (4): 119).

4. Dhalalah Ilhamiyah (Kesesatan instingtif). Dhalalah Ilhamiyah ini terkait dengan kecendrungan alami yang ada dalam diri manusia untuk melakukan penyimpangan dalam hal-hal yang tidak bermanfaat atau merugikan diri mereka atau orang lain, atau berlawanan dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Realisasinya tergantung atas pilihan mereka sendiri. Sumbernya adalah hawa nafsu yang ada dalam diri mereka. Allah berfirman; “Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata (8) Dan lidah beserta dua bibir (9) Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (jalan kebaikan dan jalan keburukan) (10).” (Q.S. Al-Balad (90): 8 – 10).

5. Dhalalah mantiqiyah (sofistika, falasi). Sesat-pikir biasanya menimbulkan kesalahan logis. Antara lain : a) Generalisasi. Yaitu pemberlakuan secara umum suatu atau beberapa hal atas semua hal tanpa bukti yang cukup, seperti pernyataan “semua orang batak bertabiat keras” “semua orang yang bertubuh pendek licik”; b) Penggunaan slogan atau semboyan yang memuat sikap emosional yang tidak objektif, seperti “pokoknya, siapapun yang menentang kebijaksanaan Presiden adalah pelaku makar!”; c) Memustahilkan suatu ide hanya karena tidak dimengerti, seperti pernyataan orang yang tidak mengerti tentang antariksa “mencapai bulan mustahil dapat dilakukan”. (Al-Manthiq Al-Islami, Kamus Filsafat, 446-447).

Ringkasnya, atribusi “sesat” sangat mungkin digunakan sesuai dimensi yang dipilih oleh pemberi atribut tersebut. Karenanya, atribut ini tidak baku dengan satu pengertian tertentu. Dan karenanya pula, kata sesat tidak secara niscaya memberikan pengaruh signifikan secara terminologis.

Sesat dan Benar
Sesat adalah kata yang berlawanan dengan “benar”. Dalam khazanah tasawuf, al-Haq, yang diartikan sebagai “Yang Maha Benar” dilawankan dengan al-Khalq. Ia adalah kata yang dipahami sebagai entitas transenden yang merupakan wujud tunggal Tuhan. Karenanya, al-haq hanya bisa disandang oleh Allah SWT.

Dalam epistemologi, terutama epistemologi Islam, al-Haq yang diartikan sebagai “kebenaran” berlawanan dengan “kebatilan” (al-bathil). Kebenaran didefinisikan sebagai keselarasan proposisional, yang dikenal dengan teori koherensi. Ia juga didefinisikan sebagai ketersambungan antara fakta objektif dan data subjektif,yang disebut dengan teori “korespondensi”.Karenanya, benar dan sesatnya sebuah pandangan, tidak bisa ditentukan melalui penetapan yang tidak memenuhi syrarat validitas proposisi.

Kebenaran atau yang benar ditafsirkan sebagai realitas sejati.Ia tak bermasa dan berkategori. Kebenaran ontologis jelas di luar area kewenangan siapa pun. Allah berfirman, “Sesungguhnya Tuhan-mu Dialah yg lebih mengetahui siapa yg tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl: 125).

Karena“Yang Benar” adalah sifat Allah, dan hak-Nya untuk menetapkan siapa yang benar dan siapa yang sesat, maka penetapan seseorang sebagai penganut keyakinan sesat merupakan hak prerogatif Allah, bukan orang yang berbeda pandangan dengannya. Dan karenanya pula, ia tidak berhak menganggap seseorang sebagai pelaku penodaan atas agama sendiri hanya lantaran berbeda menafsirkan keyakinan elementer.

Sesat dan Perbedaan 
Wahyu adalah kebenaran mutlak. Namun bila dipersepsi oleh selain Nabi atau manusia biasa maka ia tetaplah sebuah pandangan. Aliran adalah pandangan seseorang yang diterima oleh orang banyak. Karena ia tidak bisa dianggap sebagai kebenaran mutlak. Dan karena tidak bisa dianggap sebagai kebenaran mutlak, maka ia juga tidak bisa dijadikan sebagai dasar penilaian atas sebuah kelompok atau aliran sebagai sesat. 

Perbedaan dalam memilih metode penafsiran terhadap teks wahyu baik al-Quran maupun sunnah Nabi SAW meniscayakan perbedaan dalam keyakinan-keyakinan yang merupakan turunan serta konskuensinya. Menilai sebuah aliran sesat tanpa memperlajari landasan teologis dan argumentasinya secara mendalam tidaklah sesuai dengan metodologi pengkajian ilmiah. Karenanya, penilaian yang tidak didasarkan pada pemahaman mendalam dan objektif tersebut tidak layak dijadikan sebagai dasar pengambilan sikap dan penilaian sesat. 

Selain itu, perbedaan dalam keyakinan-keyakinan elementer meniscayakan perbedaan dalam pengamalan dan implementasi terutama dalam fikih, yang merupakan konsekuensi logis dari perbedaan kalam. Perbedaan antar aliran-aliran dalam himpunan fikih Sunni menegaskan dengan sendirinya bahwa perbedaan fikih adalah konsekuensi dari perbedaan prosedur dan kriteria masing-masing ulama dan aliran dalam menetapkan kualitas hadis.Karenanya, fikih sebuah aliran sebagai produk akidah secara epistemologis tidak bisa dijadikan sebagai bahan penilaian sesat.

Hal lain, yang perlu diperhatikan ialah bahwa perbedaan dalam kalam atau keyakinan tidak hanya terjadi dalam area himpunan aliran Sunni dan Syiah, namun juga terjadi dalam intra himpunan aliran itu sendiri seperti perbedaan kalam dalam himpunan kalam Sunni antara Asy’ariyah dan Ahlul-Hadits tentang Kalam Allah dan sebagainya.Bila perbedaan keyakinan dianggap sebagai alasan untuk menetapkan predikat sesat, maka secara otomatis masing-masing aliran Kalam akan saling melemparkan tuduhan sesat. Karenanya, perbedaan pandangan kalam atau keyakinan selama dipertemukan oleh prinsip Tauhid dan Risalah terakhir Nabi SAW, sebagaimana terangkum dalam dua kalimat syahadat, tidak layak dijadikan sebagai dasar penetapan dan penilaian sesat. 

Tidak hanya itu. Perbedaan dalam kalam atau keyakinan tidak hanya terjadi dalam intra aliran kalam, namun juga terjadi dalam sub-aliran kalam, seperti perbedaan dalam aliran Asy’ariyah tentang “Bertambah atau berkurangnya iman” atau antara Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam beberapa isu teologis yang cukup krusial dan fundamental. Karenanya, perbedaan keyakinan, selama ditemukan dalam sebuah prinsip agung yaitu Tauhid dan Risalah terakhir Nabi Muhammad SAW, sebagaimana terangkum dalam dua kalimat syahadat, tidak layak dijadikan sebagai dasar penilaian terhadap penganutnya sebagai sesat. 

Penyesatan dan Ekstremisme
Penyesatan kelompok lain adalah bentuk nyata dari ekstremisme. Ekstremitas biasanya mudah diterima terutama oleh individu-individu yang tak waspada dan memahami dampak serta efeknya. Ia mudah diterima karena cenderung meliburkan logika dan memakzulkan segala pertimbangan dan aturan, termasuk hak indvidu-individu yang tidak menerimanya.
Dari sinilah, ekstremitas berpeluang mengalami ekspansi makna. Ekstremitas keyakinan biasanya berproses menuju ekstremitas sikap dan gaya hidup.

Ekstremisme sikap biasanya menolak semua perbedaan, terutama dalam penafsiran terhadap doktrin agama. Bagi ekstermis, perbedaan muncul karena penyimpangan dari doktrin yang benar. Berbeda dalam memahami dan mengamalkan agama dianggap sebagai upaya menghancurkan dan menodai doktrin agama. Sejurus dengan itu, individu yang meyakini atau memilih doktrin yang berbeda dengan doktrin yang diyakini secara ekstrem sebagai kebenaran yang utuh dan mutlak, dianggap sebagai musuh, bahaya, ancaman dan perusak. 
Ekstermisme berproses dalam pikiran penganutnya seperti narkoba yang terus merangsangnya menutupi kelemahan dalam sikap dengan cara yang ekstrem pula. Karena itu, ia memerlukan legitimasi dan dasar agar terus mengabaikan pertimbangan-pertimbangan dan nilai-nilai yang dianut di luar lingkarannya.

Pluralitas dan realitas yang menampilkan perbedaan dengan apa yang dianutnya akan membuat pengiman eksitremisme gamang dan mencoba untuk mengukur kebenaran doktrin yang dianutnya. Karena itu, sebelum menggoyahkan doktrin yang telah dianut secar ekstrem, ia harus membasminya dengan harapan perbedaan yang ada di hadapannya tidak lagi memancing pertanyaan tentang kebenaran doktrinnya.

Yang lebih memprihatinkan, adalah hadirnya sebuah lembaga keulamaan yang bisa menjadi sentra ektremisme atas nama fatwa. 

Dalam sekejap, pendapat yang dikemas dengan kata “fatwa” bisa menimbulkan sebuah atau beberapa peristiwa. Ia sangat efektif untuk menciptakan sebuah aksi dan mengubah manusia yang lugu dan santun menjadi beringas dan sadis. Dengan satu kata “fatwa”, rumah-rumah bisa rata dengan bumi, anak-anak menggigil menangis tercekam takut dan wanita-wanita menejerit takut kehilangan kehormatan.

Hanya karena yang menerbitkan fatwa itu adalah orang-orang yang entah bagaimana prosesnya dianggap duplikat-duplikat Nabi, tiba-tiba parang, clurit dan semua sarana pemusnahan dihunus dan ditari-tarikan dalam sebuah even kolosal pembantaian. Alasan peragaan seni kebencian itu cukup satu: “berbeda”!

“Berbeda” ditafsirkan secara ekstrem sebagai sinonim “sesat”. Sesat terlanjur direduksi sebagai “kehilangan hak menghirup udara”, manusia maupun ternaknya, rumah maupun ladang tembakaunya.