This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 6 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

8.13.2014

Mengapa Saudi Mengangkat Menteri Syiah?

Betapa hangus hati pimpinan Albayyinat, Ahmad bin Zen Alkaff, Thahir Alkaf, Muhammad Baharun, Fahmi Salim, Farid Okbah, Athian Ali, Bahtiar Nastir, Abu Jibril, atas pengangkatan menteri Syiah di makas besar penyebar kebencian atas Syiah?

Abdullah


 Beberapa hari lalu terbetik kabar bahwa kerajaan Arab Saudi (baca, AS) untuk pertama kalinya mengangkat seorang Muslim Syiah sebagai menteri dalam pemerintahannya. Sejumlah media massa Timur Tengah kemudian menayangkan foto DR. Mohammad Abu Saq yang bermazhab Syiah tersebut. Abu Saq diangkat sebagai Menteri Negara Urusan Dewan Permusyawaratan Negara menggantikan DR. Saud Almathami. Berita pengangkatan ini telah menghebohkan kawasan.

Kita semua sudah mafhum bahwa Kerajaan AS termasuk yang paling getol memusuhi dan memerangi Syiah di seluruh dunia. Alumni universitas-universitas AS juga 95% membenci bahkan mengkafirkan Syiah. Boleh jadi ada di antara mereka yang terpaksa memusuhinya demi kemudahan dan kelancaran studi, tapi sebagian terbesar memang menganggap Syiah di luar Islam. Di forum-forum internasional, pejabat-pejabat AS juga tak segan-segan memperlihatkan kebencian pada Iran. Menlu AS Saud Al-Faisal di mana-mana bicara negatif tentang Iran, meski tak pernah digubris atau ditanggapi serius oleh para pejabat negara Mullah tersebut.

Nah, mengapa sekarang tiba-tiba kerajaan AS mengangkat seorang menteri dari kalangan Syiah? Apakah ini pengakuan akan kekalahan? Atau kegagalan strategi? Atau sebuah rayuan? Atau apa? Apa kira-kira motif politik di balik pengangkatan ini?

Ada banyak spekulasi yang terlontar di kalangan pengamat. Rata-rata mengarah pada kesimpulan yang sama: AS mulai merasa khawatir dengan seabrek kegagalan strategisnya di kawasan. Di antaranya ialah kegagalannya memerangi Syiah di negerinya sendiri. Lebih tepatnya, di wilayah Provinsi Timur yang paling kaya minyak. AS juga gagal membekam aksi protes mayoritas rakyat Bahrain yang bermazhab Syiah terhadap kekuasaan keluarga Al Khalifa. Belum lagi kegagalannya menetralisir gerakan Anshar Allah yang lebih dikenal dengan Al-Houtsi di Yaman Utara yang berbatasan dengannya.

Tapi embahnya kegagalan AS (dan semua negara Arab di Teluk) adalah di Suriah dan Irak. Di kedua negara itu AS mencoba menggulirkan konflik bersenjata memakai proksi gerakan ekstremis yang digadang-gadang mendukung “kelompok Sunni” melawan dominasi rezim Syiah. Mula-mula AS dan media pendukungnya mengklaim bahwa mereka hanya mendukung rakyat Sunni yang tertindas di Dar’a menghadapi para penjagal seorang pemuda yang hendak menyuarakan haknya. Itu klaim mereka pada April 2011 lampau.

Tak lama berselang AS dan konco-konconya mengklaim mendukung kalangan aktivis mahasiswa yang hendak mewujudkan demokrasi di Suriah. Di belakang para mahasiswa ini ada sejumlah intelektual sekuler seperti Burhan Ghalyoun, Michel Kilo dan sebagainya. Selanjutnya, tiba-tiba saja mereka menyatakan mendukung kelompok pemberontak bersenjata yang menyebut dirinya Tentara Bebas Suriah (Free Syrian Army) yang konon merupakan eks prajurit yang ingin membangun demokrasi. AS dkk lantas memasok FSA dengan senjata untuk membela rakyat dari "kebrutalan" rezim Bashar Assad.

Tapi tidak lama setelahnya FSA pecah menjadi 2000 faksi dengan berbagai nama yang berbeda. Jika Anda punya cukup waktu Anda lihat sendiri nama-nama faksi mereka di internet—dan mungkin Anda akan terheran dengan produksi nama yang begitu banyak untuk jumlah yang begitu sedikit. Melihat betapa tidak efektifnya FSA ini, tak segan-segan mereka mobilisasi para begawan fatwa untuk mendaur ulang fatwa-fatwa jihad Afghanistan untuk konteks Suriah (dan kemudian Irak).

Pada saat ini, AS mulai pecah kongsi dengan Qatar dan Turki yang melihat ISIS sebagai ancaman. AS pun akhirnya memecah ISIS menjadi Front Islam (Al-Jabhah Al-Islamiyyah) dan Pasukan Islam (Jaish Al-Islam) pimpinan orang kepercayaan Saudi, Zahran Allousy. Pada saat yang sama, Qatar dan Turki lebih suka menyokong Abu Muhammad Al-Julani pimpinan Jabhat Al-Nushra. Walhasil, pecah kongsi ini bukan saja berakibat pada konstelasi politik di kawasan, tapi juga berdampak langsung pada situasi medan laga. Alih-alih bergandengan melawan Assad, faksi-faksi ekstremis Takfiri itu berakhir saling bunuh. Per awal Juni 2014 tidak kurang dari 15 ribu nyawa mereka melayang akibat saling bantai di antara mereka sendiri.

Sekarang, para produsen partai besar fatwa AS (dan Qatar) mulai melayangkan fatwa menentang ISIS dan Khalifah Abu Bakar Al-Baghdadi. Adalah Yusuf Qardhawi yang pertama lantang menyatakan bahwa Kekhalifahan Abu Bakar Al-Baghdadi tidak sah menurut Islam. Alasannya, sebagian besar umat Islam menganggap ISIS sebagai organisasi ekstremis. Dan sungguh ironis bagi Qardhawi yang sempat terang-terangan meminta Amerika Serikat (AS yang satu lagi) untuk menggempur Assad justru menolak ISIS yang juga hendak menjatuhkan musuh bebuyutan yang sama.

Menghadapi segala rupa kegagalan politik, militer dan strategis ini, Arab Saudi (AS) tampaknya tak bisa lagi gagah-gagahan. Tak bisa lagi ia petantang-petenteng main remehkan kelompok lain, apalagi kelompok Syiah yang menduduki wilayah paling kaya minyak di kerajaan itu. AS sadar bahwa kegagalannya di Suriah, Irak dan berbagai negara lain akan segera jadi bumerang yang mematikan. Untuk itu, ia perlu segera mengamankan situasi domestiknya dan selama mungkin menggenggam secuil kekuasaan yang masih tersisa. Tentu saja, AS tak mungkin membuang segenap dampak kesalahan yang telah dilakukannya.

Tapi, setidaknya, seperti watak kekuasaan manapun, AS akan berusaha mempertahankan diri. Dan yang paling harus ia amankan adalah pekarangan dalam rumahnya sendiri. Itulah alasan seorang Muslim Syiah diangkat jadi menteri.

Masalahnya, langkah AS ini akan punya dampak serius di tempat lain, nun jauh di negeri tercinta kita Indonesia. Mengapa? Karena AS sebagai penyokong terbesar gerakan anti Syiah di dunia telah mengecewakan dan menyia-nyiakan bidak-bidaknya di Indonesia. Betapa hangus hati pimpinan Albayyinat, Ahmad bin Zen Alkaff, Thahir Alkaf, Muhammad Baharun, Fahmi Salim, Farid Okbah, Athian Ali, Bahtiar Nastir, Abu Jibril, atas pengangkatan menteri Syiah di makas besar penyebar kebencian atas Syiah? Apa yang akan meraka sampaikan kepada massa yang selama ini mendengar ocehan mereka bahwa Syiah kafir? Apakah mereka akan menyatakan bahwa AS telah mengangkat orang kafir sebagai menteri dengan alasan taqiyah? Apakah mereka akan mengatakan bahwa menteri non-Muslim boleh memimpin suatu kementerian di AS, dan diangkat langsung oleh Khadimul Haramayn? Ataukah mereka akan mengatakan bahwa AS dan seluruh ulama begawan fatwa di sana semuanya takut pada Syiah? Dan karenanya kalian juga harus takut? Ataukah ini sinyal positif bagi pemerintah Indonesia yang akan datang untuk memasang menteri dari kalangan Syiah, lantaran AS telah memberi teladan? Atau ini yang benar: kalian terus berjihad sampai titik darah penghabisan sementara kami keluarga mulia Al-Saud masih ingin berkuasa untuk beberapa saat lagi dan karenanya mau berkompromi dengan iblis terjelek sekalipun.

Kurdi Irak Puji Dukungan Iran saat Hadapi ISIS

 "Pemerintah Iran mendukung pasukan Kurdi dan telah menunjukkan kesediaan untuk memberikan lebih banyak dukungan. Karena itu, presiden Kurdi mengirim surat ucapan terima kasih pada pemerintah Iran," ujar Halgurd Hekmat, juru bicara Kementerian Kurdi Peshmerga.

Peshmarga Kurdi di Iraq.jpg


Pasukan Peshmerga Kurdi di Irak mengucapkan terima kasih pada pemerintah Iran karena perannya dalam mendukung para pejuang yang saat ini terlibat dalam pertempuran sengit dengan teroris Takfiri ISIS, Press TV melaporkan.

"Pemerintah Iran mendukung pasukan Kurdi dan telah menunjukkan kesediaan untuk memberikan lebih banyak dukungan. Karena itu, presiden Kurdi mengirim surat ucapan terima kasih pada pemerintah Iran," ujar Halgurd Hekmat, juru bicara Kementerian Kurdi Peshmerga.

Komentar ini muncul setelah pasukan Peshmerga berhasil merebut kembali kota-kota Makhmour dan Guwair pada Minggu (10/8/14).

Beberapa media Kurdi menggarisbawahi peran penting pasukan Iran dan tentara Irak dalam membebaskan daerah itu dari cengkeraman ISIS. Kehadiran pasukan Iran dinilai sangat menentukan di medan perang melawan teroris Takfiri.

Dalam surat untuk Presiden Iran Hassan Rouhani yang diterbitkan media lokal hari Minggu (10/8), Presiden wilayah semi-otonom Kurdistan Irak, Masoud Barzani mengucapkan terima kasih pada Republik Islam yang berada di belakang Kurdi Irak dalam menghadapi krisis yang dipicu oleh Takfiri ISIS.

Laporan Media Kurdi juga mengatakan, Tehran telah mengirim bantuan kemanusiaan, termasuk makanan dan obat-obatan, untuk wilayah Kurdistan Irak.

Para pejuang Kurdi berencana merebut kembali kendali kota Jalawla, di timur laut Baghdad.
"Peshmerga telah mengambil wilayah Guwair dan mulai bergerak maju. Jalawla juga akan direbut kembali kontrolnya dan saat ini kami sedang menunggu jam nol. Di wilayah Kirkuk kami telah menangkis serangan ISIS dan terus bergerak maju," tambah Hekmat.

Para teroris ISIS menguasai beberapa kota di Irak pada pertengahan Juni lalu

Bantuannya Tertahan, Iran Kecam Mesir

Sudah dua minggu lebih pejabat Mesir mengabaikan permintaan maskapai Iran untuk mengirim pesawat yang membawa bantuan kemanusiaan ke bandara di Kairo atau Ismailia, ungkapnya.

Keadaan di Rumah Sakit Gaza, Palestina.jpg


 Iran mengecam Mesir karena tidak jua memberi izin pengiriman obat-obatan dan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Pada Selasa (12/8/14), Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Arab dan Afrika, Hossein Amir-Abdollahian mengatakan, Republik Islam masih menunggu izin Mesir mengirim bantuan kemanusiaan ke Gaza dan mentransfer mereka yang terluka ke Iran untuk pengobatan.

Sudah dua minggu lebih pejabat Mesir mengabaikan permintaan maskapai Iran untuk mengirim pesawat yang membawa bantuan kemanusiaan ke bandara di Kairo atau Ismailia, ungkapnya.

Pada 5 Agustus, Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif mengatakan ia telah berdialog dua kali via telepon dengan timpalannya dari Mesir, Sameh Shoukry, tentang agresi militer brutal Israel di Gaza dan urgensitas pengiriman bantuan kemanusiaan ke sana.

Beberapa hari sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan, pengiriman bantuan Bulan Sabit Merah Iran untuk wilayah Palestina telah tertunda karena hambatan birokrasi.

Dalam pertemuan dengan Amir-Abdollahian di Tehran awal bulan ini, Wakil Menteri Luar Negeri Mesir, Mohamed Badr el-Din Zayed sudah berjanji akan bekerja sama dalam pengiriman bantuan kemanusiaan Iran ke Gaza.

Hizbullah: Plot AS-Israel-ISIS di Suriah Gagal

Ia menekankan, rencana AS-Israel-ISIL di Suriah telah gagal total.

Sheikh Naim Qassem, Deputy Secretary General of Hezbollah



Gerakan perlawanan Hizbullah mengatakan, plot yang dijalankan AS, Israel dan teroris Takfiri ISIS di Suriah telah gagal.

Dalam sebuah wawancara pada hari Senin (11/8/14) dengan televisi Libanon, al-Manar, Wakil Sekjen Hizbullah, Sheikh Naim Qassem mengatakan bahwa teroris Takfiri ISIS menyusup ke Suriah dengan bantuan AS dan beberapa negara di kawasan itu.

Ia menekankan, rencana AS-Israel-ISIL di Suriah telah gagal total.

Mengacu pada hubungan Hizbullah dan gerakan perlawanan Palestina, Hamas, Qassem mengatakan bahwa 'jarum kompas Hizbullah selalu menunjuk dan akan selalu menunjuk ke Israel."

Dalam beberapa bulan terakhir, tentara Suriah yang didukung pejuang Hizbullah meraih sukses besar dalam memerangi teroris Takfiri dukungan asing yang beroperasi di wilayah Suriah sejak Maret 2011.

Pada Mei lalu, Qassem menggambarkan Israel sebagai "musuh utama" gerakan Libanon dan perlawanan bersenjata merupakan cara yang tepat untuk menghadapi rezim Tel Aviv.

Sheikh Qassem lebih lanjut menunjukkan, pejuang Hizbullah melawan ekstremis di Suriah sambil mencatat, "Konfrontasi kami dengan kelompok-kelompok Takfiri berasar pada bahaya langsung yang mereka wakili dan tidak mempengaruhi kesiapan kami menghadapi Israel."

Indonesia Tak Akan Akui Hubungan Diplomatik dengan Israel

 "Posisi kita, sampai kapan pun, tidak akan mengakui hubungan diplomatik dengan Israel hingga Palestina merdeka," ujar Direktur Timur Tengah Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Febrian A. Ruddyard.






Pembebasan Palestina, dari hari al Quds sampai al Quds Palestina.jpg



Pemerintah Indonesia berkomitmen mendukung kemerdekaan Palestina dengan cara tidak mengakui hubungan diplomatik dengan Israel hingga Palestina merdeka.

"Posisi kita, sampai kapan pun, tidak akan mengakui hubungan diplomatik dengan Israel hingga Palestina merdeka," ujar Direktur Timur Tengah Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Febrian A. Ruddyard.

Febrian mengemukakan hal itu dalam konferensi pers yang diselenggarakan salah satu lembaga kemanusiaan di Jakarta, Selasa (12/8/14).

Ia mengungkapkan, langkah tersebut merupakan salah satu bentuk tekanan pada Israel agar segera menghentikan penjajahan pada Palestina. Bentuk tekanan lainnya adalah ajakan pada masyarakat untuk tidak membeli barang-barang produksi Israel dan negara-negara yang mendukung Israel.

Tak hanya itu, menurut Febrian, Indonesia juga akan terus mendukung Palestina agar statusnya dapat diakui dunia internasional.

"Palestina itu negara yang objektif merdeka, tapi untuk memperoleh status ini kita harus berjuang. Tantangannya luar biasa," katanya.

Ia menambahkan, Indonesia bersama negara-negara di Asia Afrika berkomitmen meningkatkan kemampuan rakyat Palestina mengelola sendiri negaranya.

"Kita bersama negara-negara di Asia Afrika berkomitmen pada 2014 hingga 2019 melatih 10 ribu orang Palestina di bidang pemerintahan," ujar Febrian.

6.27.2014

Surat Terbuka Kepada Media di Indonesia Tentang Irak

tembak Syiah, ya tembak Sunnah


Kenyataannya Sunni dan Syiah sama-sama dibantai di Suriah dan Irak oleh pemberontak bernama DAIS atau ISIL ini. Ulama Sunni tak sedikit yang dibunuh hanya karena menyerukan persatuan dan menolak untuk mengikuti logika pemberontak bersenjata ini. Warga Sunni di Irak seperti juga warga Syiah sama-sama jadi korban kebengisan DAIS tak terbantahkan.

Perkenalkan saya Hertasning Ichlas orang biasa yang ketepatan berada di Irak di saat perang pemberontakan baru saja berkecamuk di negeri itu.

Saya baru saja pulang dari Irak pada hari Sabtu lalu 21 Juni 2014. Salah satu yang saya lakukan di sana menulis reportase kasus pendudukan Daulah Islamiyyah Fil Irak wa Sham (DAIS) atau bahasa Inggrisnya Islamic State of Irak and Levant (ISIL) di Irak untuk Majalah Geo Times di Indonesia.

Saya mengamati pemberitaan Kompas, MetroTV dan media nasional lainnya soal Irak serta penggunaan diksi “milisi Sunnah” “pejuang Sunni” bahkan “Mujahidin Sunni” dalam pemberitaan untuk memberi atribusi kepada pemberontak bersenjata DAIS/ISIL di Irak.

Terus terang saya prihatin dan kecewa terhadap cara media nasional umumnya dalam melihat masalah di Irak dan kebijakan memilih diksi seperti “milisi Sunnah” “pejuang Sunni” atau bahkan “Mujahidin Sunni”.

Menurut saya hal itu bisa membangkitkan kesalahpahaman yang serius seolah-olah masalah di Irak adalah pertempuran Sunni melawan Syiah. Sunni dan Syiah sama-sama dirugikan oleh cara pemberitaan yang tidak bertanggung jawab seperti itu.

Masalah di Irak bukan perang mazhab antara Sunni dan Syiah. Masalah di Irak persis seperti Suriah. Ada pemberontak bersenjata dengan rekrutmen bersifat transnasional berpaham takfiri yang cenderung hitam putih dalam beragama dan suka mengkafirkan dan menghabisi siapa saja yang berbeda dengan mereka baik Sunni atau Syiah serta Kristen demi membentuk utopia politik mereka Daulah Islamiyyah di Irak dan Shams (Suriah dan sekitarnya).

Sponsor senjata dan logistik di belakang DAIS/ISIL awalnya Arab Saudi, Qatar, Yordan, Israel dan AS dengan kepentingannya masing-masing. Meskipun pada perjalanannya AS dan Qatar berusaha menarik diri karena merasa tak bisa mengontrol sepak terjang DAIS atau ISIL ini.

Kenyataannya Sunni dan Syiah sama-sama dibantai di Suriah dan Irak oleh pemberontak bernama DAIS atau ISIL ini. Ulama Sunni tak sedikit yang dibunuh hanya karena menyerukan persatuan dan menolak untuk mengikuti logika pemberontak bersenjata ini. Warga Sunni di Irak seperti juga warga Syiah sama-sama jadi korban kebengisan DAIS tak terbantahkan.

Situs-situs yang dihormati Sunni maupun Syiah utamana seperti Syekh Abdul Qodir Jaelani mereka rusak. Suku Kurdi di Irak pun menjadi korban kebengisan DAIS.

Saya melihat sikap media nasional yang merasa masalah di Irak adalah masalah mazhab dan agama sungguh tidak cermat, berbahaya dan kekurangan pendalaman empiris dan konteks. Ada konsekeunsi yang sangat fatal jika media mengunyah begitu saja liputan kantor berita asing yang punya bias dan misi propagandanya masing-masing.

Benar saja Nouri Maliki memang punya banyak kritik dan protes dari pihak Sunni di Irak. Tapi hal itu tak unik hanya Sunni dan bukan soal sentimen Mazhab karena sebagian besar ulama Syiah di Irak bahkan Marja besar di Irak Sayyid Ali Sistani juga menyimpan kritik terhadap Nouri Maliki. Tapi soal-soal tersebut adalah masalah politik dalam negeri Irak yang punya kepentingan-kepentingan pragmatisnya.

Media nasional kita harus punya kecermatan dan lebih bekerja keras mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Irak sehingga dapat sampai pada fakta bahwa semenjak DAIS atau ISIL masuk Irak, menduduki Anbar, Samarra dan terutama Mosul, Nouri Maliki kontan mendapat dukungan penuh rakyat dan kekuatan sosial politik Sunni, Syiah, Kurdi dan Kristen di Irak atas nama kedaulatan Irak. Berduyun-duyun warga mendaftarkan diri menjadi sukarelawan perang untuk mengusir DAIS/ISIL. Tercatat saat saya hendak meninggalkan Irak, lebih dari 2 juta sukarelawan sudah terdaftar dan sebagiannya sudah diberangkat ke lokasi.

DAIS atau ISIL adalah gerakan pemberontak bersenjata. Mereka membawa kehancuran kemanusiaan dan pecah-belah dalam agendanya. Propaganda mereka menyebar dalam situs-situs termasuk di Indonesia. Tolong jangan menganggap mereka sebagai milisi Sunnah atau pejuang Sunni karena itu sangat manipulatif dan bisa meresahkan umat di Indonesia.

Sunnah dan Syiah secara serius sedang dipecah-belah dan itu secara instan diperburuk oleh pemberitaan media yang tidak bertanggung jawab. Demikian, terima kasih.

Salam,
Hertasning Ichlas Koordinator YLBHU

Anggota Pemimpin Ikhwanul Muslimin di Dewan Keamanan Nasional AS

Mehdi K. Alhassani di Gedung Putih (counterjihadreport)


Selain itu, intelektual terkenal, Louay Safi (anggota Ikhwanul Muslimin dan, pada saat yang sama, anggota "pemberontak" Dewan Nasional Suriah) adalah mantan penasihat Pentagon.

Sebuah dokumen yang diperoleh Judicial Watch menunjukkan bahwa anggota Dewan Keamanan Nasional AS, Mehdi K. Alhassani (dalam foto diatas), berafiliasi dengan kelompok Ikhwanul Muslimin (IM).

Adapun nama-nama lain yang (juga berafiliasi dengan IM) telah diketahui adalah:
• Huma Abedin, yang menjadi wakil kepala staf Hillary Clinton di Departemen Luar Negeri;
• Farah Pandith, delegasi Departemen Luar Negeri untuk komunitas Muslim;
• Arif Alikhan, asisten Janet Napolitano, Departemen Keamanan Dalam Negeri;
• Imam Mohamed Magid, anggota Kelompok Kerja Kontra Ekstremisme Kekerasan DHS;
• Mohamed Elibiary, penasihat Departemen Keamanan Nasional (Homeland Security);
• Eboo Patel, anggota Dewan Penasihat Kemitraan berbasis Agama dan Lingkungan;
• Rashad Hussain, penasihat Presiden Obama untuk hukum Syariah, Utusan Khusus untuk Organisasi Konferensi Islam (OKI);
• Salam al-Marayati, penasihat Presiden Obama, anggota delegasi AS untuk OSCE.

Selain itu, intelektual terkenal, Louay Safi (anggota Ikhwanul Muslimin dan, pada saat yang sama, anggota "pemberontak" Dewan Nasional Suriah) adalah mantan penasihat Pentagon.



Source : http://www.islamtimes.org